Ini sebuah cerita, prosa tentang sepenggal rasa.
Dia sangatlah misterius, hal paling absurd, weird, janggal yang menyusup diantara berbagai jenis rasa yang mampu dihasilkan oleh sekeping hati seorang manusia. Hati-hati kawan, dia tak menggigitmu, tapi dia bisa meninggalkan sebuah luka yang sangat dalam, yang tak cukup satu purnama untuk menghilangkan rasa itu. Dia tak membuntutimu, tapi selalu mengambil celah, entah datang darimana dia bisa saja muncul di tengah sawah, di puncak gunung, di pulau terpencil, di sebuah masjid, di dalam kuil, di gedung DPR, diantara semrawutnya jalanan Jakarta, di sebuah lokalisai, dan sering juga di sebuah institusi pendidikan.
Tapi tenang, tak perlu gentar berperang, karena memang dia tak perlu diperangi. Tak perlu lari pontang-panting, karena dia tak perlu kau hindari. Jangan kau terlalu angkuh mengusirnya, karena sebenarnya dia juga tak salah apa-apa. Cukup terima, apa adanya, cukup rasakan sensasinya.
Saat dia menyergap, bersiaplah dengan seribu kemungkinan. Dia bisa menjelma menjadi seorang malaikat pencabut nyawa, membawa sangkakala untuk memusnahkan harapan mereka yang terlalu penakut mengekspresikannya. Dia bisa menjadi sebuah mesin pembunuh paling mematikan. Bisa membuat bola api, meledak, menghancurkan, memusnahkan, lebih dari apa yang bisa dilakukan terhadap Hiroshima.
Kabar baiknya, dia tak segan-segan menghadirkan surga di depan mata kita. Kemungkinan ini pasti, bagi mereka yang menatap dunia dari mata yang bercahaya. Kearifan pemikiran yang membuat mereka mampu memvisualisasikan sebuah masa depan, yang indah tentunya. Orang-orang seperti ini selalu tersenyum menyambut dia datang, selalu. Seperti penyambutan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, syair-syair ceria mereka dendangkan untuk menyambutnya. Tidak ada tempat untuk nada-nada minor. Kalupun ada, itu adalah sebuah ekspresi melankolis dari sebuah bahagia. Cengeng, sebagian orang menamakannya.
Satu titik dalam relativitas waktu, di sebuah ruang diluasnya jagat raya, seorang anak manusia, tak tahu malu mencoba bercinta. Persetan dengan semua logika, tak mengindahkan segala teori. Tuhan, jika ini sebuah cinta, ijinkan aku memilikinya. Dan  jika cinta bisa mengalami perubahan wujud, menyublim mungkin, aku berharap cinta ini berubah menjadi udara, hingga aku bisa menghirupnya di mana saja, karena bersama dia, aku tak ingin ke mana-mana.#jadiMelowGiniSih???
Filed under: Uncategorized


















ingat pembicaraan ga penting kita sblumnya…..(mantan)…heheheh
ok ok, lagi hunting nih…. doain aja dapet Nabilla Syakieb
cicicieeeeeee
nabilla sakittttt x,,
hehe Qdink
aminnnn mudh2annn dapetttt!!!
[...] Melepas tekanan Lelah tidaknya Anda tergantung pada persepsi Anda. Apabila Anda tidak membersihkan pikiran, maka pikiran akan penuh debu. Setiap hari Anda akan [...]