Piaraan Pantai

Aku mengenal sungai, setua bumi, sedekat urat nadi. Di dadaku, udang dan ganggang masih silang terkembang. Tapi, jauh di bawah pusar, tempat laut dalam tak sadar, seorang lelaki berjubah lunglai membungkuk, mencucup lubang gaib, dimana senja mengintip, mirip singa buta, penunggu Sungai Tua. Sedang, di sekelilingnya, angsa-angsa mengerami mimpi, seperti menggarami pandangku dengan bunyi bibit [...]

Pasir Terukir

Siapa suka mengukir pasir, akan sampailah ia ke pinggir: tempat dimana burung-burung tak (lagi) takut terkurung, dan perahu pemburu tersangkut di puncak kabut: mungkin itu rumah senja, mungkin sarang bianglala, tapi apa bedanya? Seorang tualang bukan juru peta, dan kitab angin yang dikhatamnya, adalah rangkaian cinta dari codot-codot yang terus setia, tanpa rumah.   A [...]

Ciuman Cucut

Sebelum aku dikhianati, berikan cintamu, yang rinai seperti ciuman Yudas yang tak mengerti kenapa laut tak pernah letih menepi dan ikan-ikan tetap seamis birahi biar seumur-umur ia mencuci diri. Ciumlah, selagi laut tertidur, dan cumi-cumi merebak ke dasar mimpi, lalu menghitami mahkota duri yang kan aku kenakan, sebelum tersalib di batu-batu karang. Sementara kau terus [...]

Layar Sepijar

dia setabah jantung cahaya, berlayar dari bunga ke luka. Dia hanya mata Bangka, terhunus terus ke tengah, seolah memenuhi panggilan pembawa warta, dan lambaian rahasia. Sementara, malam telah menarik segala satwa, hingga sepi leluasa memilikinya, seperti satu gigi yang tinggal di mulut Gerhana. A Muttaqin, 2008

Kerang Kasmaran

Di kedalaman ini, aku masih merindukanmu: Kau yang hanya putih, putih yang tak pandai mimpi, putih yang lebih tenang timbang ragi, putih yang tak menyimpan iri pada warna warni taman ini, putih yang tak sembarang memberi getah mani pada liuk luka, atau aku, yang terbuka serupa garba sepi, sendiri, di taman laut ini. Sebab, kau [...]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.067 pengikut lainnya.