Aku mengenal sungai, setua bumi, sedekat urat nadi. Di dadaku, udang dan ganggang masih silang terkembang. Tapi, jauh di bawah pusar, tempat laut dalam tak sadar, seorang lelaki berjubah lunglai membungkuk, mencucup lubang gaib, dimana senja mengintip, mirip singa buta, penunggu Sungai Tua. Sedang, di sekelilingnya, angsa-angsa mengerami mimpi, seperti menggarami pandangku dengan bunyi bibit [...]
Filed under: Biography, Sastra | Ditandai: A Muttaqin, Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar »
















