Dua lantai diatas mengelilingi ruang utama, seperti tribun dalam sebuah panggung orchestra.(Pekok, ini bukan orchestra, ini adalah tempat menghadap Tuhan!!!!) Masjid ini begitu luas, tak bisa dibandingkan dengan surau tempat aku mengaji dulu. Tak kulihat kentongan, benda yang hampir selalu ada di mushola di desaku. Mimbar kayu diganti dengan mimbar beton tepat disamping atas tempat [...]
Filed under: Biography, Diary | Ditandai: Istiqlal, konyol | 2 Komentar »
















