The SUPER INSURGENT GROUP of INTEMPERANCE TALENT

Bermula di rumah bu lik di Pamulang. Saudara terdekat di perantauan. Adik dari Ibuku yang menikah dengan seorang PNS Pasar Jaya. Salah satu saudara dari Ibu yang paling akrab denganku. Suka bercanda, kadang kadang agak kampungan– emang aslinya juga orang kampung- (just kidding bulik, hehe). Perawakannya tipikal ibu-ibu istri pegawai kebanyakan.Mereka dikaruniai satu anak.. The one and only. Semua bentuk kasih sayang dari orang tua terfokus padanya. Ginanjar namanya, Gigin panggilannya. Dulu, 10 atau 15 tahun yang lalu -saat sawah masih menjadi arena bermainku , saat ketapel masih menjadi kalungku, dan sungai masih menjadi kolam renangku- dia adalah anak “kota” yang kutunggu kedatangannya untuk bermain bersama setiap lebaran. Hampir tiap tahun, setiap lebaran tiba aku akan mengajaknya bermain ke sawah, main bola di tanah lapang, atau mencari ikan di saluran irigasi persawahan. Persis seperti si Bolang. Yuuuuk.

Setiap aku menyempatakan diri mampir di rumah bu likku itu, yang kutuju adalah meja belajar Gigin yang ada komputer Pentium 4 diatasnya. Transfer lagu ke flashdisk seperti sebuah rutinitas dan otomatisasi. Waktu itu aku sedang mencari koleksinya Queen, iseng-iseng masuk ke folder lagu Indo indie. Disana ada tulisan –yang kutebak sebuah nama grup band- The S.I.G.I.T. beserta judul album “Visible Idea of Perfection”. Nama yang aneh untuk sebuah grup band, batinku. Bukankah sekarang nama band2 Indonesia aneh2?. The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, ternyata itulah kepanjangannya. Terjemahan versiku: Kelompok Super Pemberontak dengan Talenta Melanggar Aturan. Naluri “gumunan”ku muncul. Kubuka daftar lagu grup band aneh itu, terpampang tiga buah lagu dengan judul Black Amplifier, Visible Idea of Perfection (yang akhirnya kutahu judul aslinya Horse) dan No Hook. Pertama denger lagunya –black amplifier- adrenalin langsung terpacu. Seperti darah mengalir deras menuju ubun-ubun kepala, mengalir kebagian otak yang belum pernah teraliri darah segar pembawa oksigen. Menghentak, megintimidasi untuk segera beranjak, menggoda kaki tukl segera berlari. Entakan drum yang penuh energy, sound gitar yang penuh distorsi berkolaborasi dengan gaya vocal penuh tenaga menghasilkan komposissi yang mampu memompa semangat. Lagu2 seperti ini cocok untuk megawali hari. Seperti sering terjadi sebelumnya, rasa ingintahuku yang tinggi – antusisasme mungkin- menggiringku kepada informasi2 yang ingin kutahu. Beberapa hari setelah kejadian itu, baru kutahu ada teman kerjaku yang suka band2 Indie. Langsung saja bakatku sebagai reporter muincul. Langsung kubrondong dia dengan pertanyaan2 tentang band2 Indie idolanya. Dan pertanyaan terpenting “Koe duwe lagu2ne The S.I.G.I.T po ra?” Pucuk dicinta, genter pun tiba. Dia tidak punya tapi temannya ada yang punya. Ceritapun menjadi biasa, kudapatkan yang kuinginkan. Satu album penuh, dan semua lagunya enyong banget. Lagu yang terdapat di Visible Idea of Perfection –album debut penuh energy- melampiaskan skill bermusik khas anak muda. Hari itu kutemukan satu idola baru.

The S.I.G.I.T band asli Bandung. Mereka sudah terbentuk sejak tahun1994. Para personilnya berasal dari kaum terdidik. The S.I.G.I.T adalah Rektivianto Yuwono pada gitar dan vokal, Aditya Bagja Mulyana pada bass, Donar Armando Ekana pada drum dan Farri Ichsan Wibisana pada gitar. Sesuai dengan karya2 mereka. Mereka sudah sering manggung di ibu kota. Mungkin aku yang tertinggal informasi hingga baru sekarang kutahu mereka. Kemudahan di era informatika, My Space menjadi ajang promosi album mereka. Dan karena lagu2 mereka berbahasa Inggris, seorang produser dari Australia akhirnya meminta mereka merilis ulang Visible Idea of Perfection di Ausi. Album beredar, dan tur pun dimulai. Mereka menyebut fans mereka Insurgent army. Dan inilah aku.

Agak simalakama memang, aku selalu mempromosikan kepada teman-temanku untuk lebih mencintai Indonesia, melestarikan nila-nilai lokal di era global, salah satunya adalah bahasa Indonesia. Tapi idola baruku ini English version lyric. Tak satupun lagunya berbahasa Indonesia. Aku tak tahu ini bakat mencari alasan, menghindar, mencari pembenaran untuk diri sendiri atau kemampuan memandang sesuatu dari sudut berbeda, aku menganggap lagu-lagu The S.I.G.I.T. sebagai ajang untuk melancarkan bahsa Inggrisku. Yayayayayaya, sebagai penyeimbang aku menemukan satu idola baru lagi, Efek Rumah Kaca. Aku salut pada para benteng budaya. Didi Kempot, Gesang, almarhum Benyamin S, para perajin batik, para perajin songket, para wow ipits (pengukir asmat), para penari saman, para pemangku adat, merekalah orang-orang yang berdiri di garda depan untuk melestarikan budaya Indonesia yang kaya warna. Memberi teladan generasi muda Indonesia dengan budaya yang seharusnya kita lestarikan bersama. Merekalah yang mengimbangi komik2 jepang, musik2 Amrik, Calvin Klein, Sophie Martin, Dolce Gabbana dan hedonisme ala Eropa. Salutku untuk kalian!!!! Ada “tugas” untuk masing-masing individu. Ada yang melestarikan budaya, menunjukan pada dunia inilah Indonesia dengan kebudayaannya. Ada yang menyambut globalisasi, menunjukan bahwa Indonesia bagian dari peradaban. Dunia ini panggung sandiwara, benar kata Ian Antono. Setiap kita memerankan peran masing-masing. Pertanyaanya, apa yang ingin kita perankan ?

4 Tanggapan

  1. The SIGIT dan diimbangi dengan Efek Rumah Kaca? Hahahaha…

  2. menjadi satu berimbang padu untuk cerdas..

    s

  3. […] target=”_blank”>Black Amplifier, Horse, > No Hook” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: