Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui….
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu,
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap ?

Sambil membenarkan letak leher ke mejaku ?

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,

lembah Mandala Wangi
Kau dan aku tegak berdiri,
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin…

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ?
Ketika kudekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat…

Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya…
Kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata, kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta ?

Haripun menjadi malam, kulihatsemuanya menjadi muram…
Wajah-wajah yang kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti…
Seperti kabut pagi itu

Manisku, aku akan jalan terus…
Membawa kenagan-kenangan dan harapan-harapan…
Bersama hidup yang begitu biru…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Sebuah Tanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.