Wiraswasta, Menciptakan Yang Belum Ada

Apa yang dikerjakan Wawan Juanda tidak persis sama dengan yang dikerjakan Yoris Sebastian. Meski begitu, ada yang menghubungkan mereka, yaitu selalu mencari ide baru yang inovatif. Wawan dan Yoris sama-sama menciptakan bisnis yang tadinya belum ada. Wawan adalah creator pertunjukan atau festival, Yoris menawarkan jasa konsultasi yang memberikan ide-ide kreatif untuk klien yang mau menjalani bisnis dengan cara “tidak lazim” alias dengan cara “Oh My Goodness”.

Salah satu syarat bertumbuhnya industri atau ekonomi kreatif adalah keberadaaan para wiraswastrawan. Ide-ide kreatif memerlukan kecakapan kewiraswastaan untuk dapat menjadi industri atau kegiatan ekonomi. Lebih dari hanya menciptakan bisnis, wiraswastawan harus memiliki karakteristik khas yang seperti disebut Donald F Kuratko dan Richard M Hodgetts (Entrepreneurship: Theory, Process, and Practices; 2004) juga meliputi mencari peluang, berani mengambil resiko, dan memiliki kegigihan mewujudkan ide-ide menjadi kenyataan, yang berkombinasi dalam cara inovatif.

Wawan awalnya praktis bekerja sendirian. “Hanya saya dan gagasan saya. Asset saya adalah otak saya, jadi saya harus bekerja sama dengan banyak orang dan para  event organizer untuk membikin suatu pertunjukan,” kata Wawan. Tantangan terberat Wawan pada awal usahanya 10 tahun lalu adalah membuat jejaring dengan para perencana kegiatan. Tantangan lain adalah memastikan gagasan dapat diterima oleh para pemangku kepentingan , mulai dari sponsor, pemerintah sampai mitra kerja.

Contonya ketika Wawan ingin membuat acara untuk membangun perhatian masyarakat pada isu lingkungan dan pemanasan global. Wawan memilih menggunakan konsep   ecofashion berupa pergelaran busana berbahan tumbuhan dan bahan daur ulang, seperti daun kering dan plastik limbah, dan diadakn di hutan kota Bandung.

“Tidak mudah meyakinkan sponsor menerima gagasan ini karena bisa jadi mereka menganggap acara ini hanya untuk sekedar aneh,” jelas Wawan.

Berubah

Dalam hal kewirausahan, Amerika Serikat dikenal sebagai juara dalam menghasilkan wiraswastawan. Inovasinya pun tidak main-main, dari yang industri kreatif sampai pada teknologi kedokteran dan sains. Di Indonesia, kewiraswastaan sedang ditumbuhkan. Yoris mengaku sebagai orang yang terlambat mau menjadi wiraswastawan. “Waktu kecil, kebanyakan kita disuruh belajar rajin supaya dapat pekerjaan bagus. Bukan jadi pengusaha yang bagus,” kata Yoris.

Yoris tidak menyelesaikan pendidikan S-1 akuntansinya di Universitas Atma Jaya Jakarta karena mendapat tawaran bekerja di Hard Rock Café. Orang tuanya yang semula keberatan akhirnyabisa menerima pilihan itu setelah Yoris berhasil membuktikan keandalannya sebagai professional sehingga menjadi general manager Hard Rock Jakarta dan Bali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: