Sellaband: When musicians meet their “believers”

Anda seorang musisi baru dan tidak punya dana untuk melakukan rekaman di studio secara professional? Jangan khawatir, anda bisa bergabung ke situs Sellaband (www.sellaband.com), mengumpulkan dana disitu, lalu melakukan proses rekaman layaknya musisi professional. Ya, inilah salah satu terobosan dalam industri musik di era New Wave Marketing ini. Fans anda di seluruh dunia bisa ikut mendanai proyek rekaman anda. Sebaliknya, kalau anda yang jadi fans musisi yang ada di Sellaband, anda pun bisa ikut mendanai proyeknya, walaupun tidak kenal musisi tersebut.

Model bisnis Sellaband ini memang unik. Situs musik yang diluncurkan di Bocholt, Jerman oleh Johan Vosmeijer, Pim Betist, dan Dagmar Heijmans pada Agustus 2006 ini melibatkan para fans secara aktif untuk mendukung musisi yang digemarinya sejak awal proses rekaman. Disini para musisi diperlakukan layaknya sebuah perusahaan yang akan melekukan IPO. Jadi, Sellaband akan menerbitkan semacam “saham”. Saham inilah yang nantinya akan ditawarkan kepada fans, yang di sisni istilahnya “Believers”, untuk membiayai proses rekaman musisi tadi. Unik,bukan?

Saat ini tercatat ada sekitar 8.600 musisi yang terdaftar di Sellaband. Sebanyak 27 musisi telah berhasil mengumpulkan 50 ribu dollar AS dan telah atau sedang menjalani proses rekaman. Mereka berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Perancis, Inggris, Jepang, Argentina, Australia, dan lain-lain. Dari Indonesia sendiri ada 14 musisi, namun belum ada yang mencapai 50 ribu dollar AS. Yang tertinggi adalah Saharadja dari Bali, yang baru berhasil menjual parts sebanyak 13 unit alias mengumpulkan dana sebesar 130 dollar AS.

Nah kasus Sellaband ini menunjukkan terjadi Communal Activation sebagai saluran distribusi di era New Wave Marketing. Komunitas penggemar yang ada dimanfaatkan bukan hanya sebagai pelanggan, namun juga untuk menyebarluaskan musik yang telah dibuat. Disini juga terjadi proses Co-Creation antara produsen (musisi) dan pelanggan (fans). Pelanggan dilibatkan sejak awal proses “produksi” sehingga bisa memiliki sense of ownership, bukan hanya sense of belonging.

New Wave Marketer memang harus terus berupaya melakukan praktik low-budget high-impact marketing seperti ini agar bisa sukses. Melakukan Communal Activation sebagai sebuah cara yang bisa ditempuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: