High School Musical: Activating the Youth Community

Anda tahu film “High School Musical” (HSM)? Film televisi buatan Disney ini sangat populer di kalangan anak muda saat ini. Penayangan perdananya di Amerika ditonton oleh sekitar 7,7 juta orang. Sementara di Inggris penayangan perdananya disaksikan sekitar 789 ribu pemirsa.

Secara singkat, film ini mengambarkan perjuangan dua orang murid sebuah SMA di Amerika untuk mengikuti audisi pemeran utama pertunjukan sebuah drama musikal di sekolahnya. Dengan dukungan teman-temanya, kedua murid yang bernama Troy Bolton dan Gabriella Montez itu akhirnya mendapatkan peran yang mereka idamkan tersebut.

Film ini pun ditutup dengan indah. Seluruh murid sekolah berkumpul bersama di gym sambil bernyanyi dan menari.

Nah, sebenarnya agak klise, bukan? Namun, film ini menjadi sangat menarik karena dikemas dalam bentuk drama musikal. Jadi, di sana-sini dihiasi oleh tarian dan nyanyian yang sangat memikat dari para pemeran film HSM ini.

Inilah film televisi paling sukses yang pernah diproduksi Disney. Film yang diluncurkna pada 20 Januari 2006 ini memenangkan 2 Piala Emmy . Soundtrack-nya sendiri terpilih sebagai “Soundtrack Album of the Year” dari Billboard Music Award pada tahun 2006.

Karena itu tak heran jika dari film ini kemudian dibuatkan sejumlah “produk turunannya”. Ada novel, video games, dan juga tur konsernya yang menampilkan seluruh pemeran utama. Nah, apa yang bisa dipelajari dari kisah “Hogh School Musical” ini?

Bagi saya ini menunjukkan bahwa dalam sebuah komunitas seperti komunitas anak muda selalu ada simpul-simpul komunitas. Simpul-simpul ini orangnya bisa menduduki posisi  formal, ketua OSIS atau Ketua Tim Basket misalnya. Bisa juga merupakan informal leader yang disegani oleh teman-temannya.

Troy dan Gabriela tadi bisa dibilang merupakan simpul komunitas. Mereka berdua mampu menggerakan kawan-kawannya untuk mendukung mereka secara sukarela. Mereka berdua mampu menjadi perekat kawan-kawan sekolahnya.

Nah, para simpul atau pemimpin komunitas inilah yang harus menjadi perhatian New Wave Marketer untuk melakukan Communization.

Biar bagaimana, perusahaan sulit dianggap netral alias tidak punya kepentingan ketika melakukan Commun ization. Karena itulah, New Wave Marketer harus bisa meng-engage para aktivis komunitas ini. Suara para aktivis komunitas inilah yang akan didengarkan oleh anggota komunitas lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: