Three Diferent Kind of People (part 1)

Idul Adha, 2008. Hari besar Islam terbesar kedua setelah Iedul Fitri. Kalau Iedul Fitri tentang penyucian diri, maka Idul Adha adalah tentang keikhlasan hati. Keikhlasan diri dalam berkorban, keikhlasan hati dalam berbagi. Aku ingin sekali sholat Ied di Istiqlal, masjid kebanggan warga Jakarta yang katanya terbesar se-Asia Tenggara. Keingintahuan atau bentuk penasaran? Perbedaannya tipis kawan, yang jelas aku rindu hal-hal baru. Kalau bisa, aku ingin mencoba semua hal di dunia ini (kemaruk!!). Rencana tersusun rapi, janji terikrar suci. Sore hari, saat cahaya mentari merayap pergi tak lagi berseri-seri, kami berempat – insurgent army, Fitri (asli laki-laki), Marto Eng, Muldani – berangkat menuju terminal Kalideres untuk mengejar busway ke Istiqlal. Sampai di dalam bus, setelah mendapatkan posisi duduk yang nyaman kukeluarkan buku terbaru dari idolaku, yang sengaja kubawa serta. Seri terakhir dari tetralogi yang inspiratif, Laskar Pelangi. Buku yang telah kutunggu terbitnya setiap waktu, Maryamah Karpov. Perasaan itu muncul, perasaan “ini lho bacaanku, berbobot kan?”. Sepertinya menyenangkan membaca buku di bus umum, terkesan ‘hobi yang berat’. Sebuah hobi yang baru ingin kumulai. Sebenarnya aku memang ingin sekali membacanya di angkutan umum. Walaupun memang dengan niat mulia- belajar setiap waktu-, tapi tetap saja rasa narsis itu muncul. Dasar Mr. Narsis.

Sebelum Isya kami tiba di tempat tujuan. Gerbang tempat kami turun dari busway ditutup. Kami memutar untuk masuk ke masjid Agung itu. Adzan berkumandang, perasaan yang lain berganti menyergap. Sejuk, saat mengingat semua kebaikan yang seharusnya tak perlu diingat-ingat. Resah, saat mengingat iman di hati yang setipis lapisan ozon akhir-akhir ini. Kami langsung menuju tempat wudhu. Aku pernah dengar kalimat bijak, kebiasaan adalah racun. Bagiku, kalimat itu benar adanya. Kebiasaanku sejak kecil terbawa sampai sekarang, menunda-nunda waktu. Sebuah sifat yang tak bisa dibanggakan. Dan bukannya langsung mengambil air wudhu, aku malah duduk –duduk di tangga persis dipintu masuk tempat wudhu itu. Melepas lelah, sebuah pembelaan diri. Dan datanglah orang pertama. Sebenarnya dia sudah duduk disitu dari sebelum aku masuk masjid ini. Seorang laki-laki tunanetra berusia kira-kira 40-an tahun. Penampilannya sangat sederhana, baju koko berkolaborasi dengan sarung motif kotak-kotak ditambah peci hitam yang sudah lusuh. Kebalikan dari penampilanku yang sok gaul, padahal jadul. Wajahnya mengisyaratkan rasa syukur yang tulus atas semua anugerah yang diberikan Tuhan padanya. Aku tersentak menyadari betapa aku tidak pernah menyukuri apa yang kupunya. Bapak-bapak itu memulai percakapan dengan terlebih dahulu meraba-raba menentukan posisi yang dia kira sudah berhadapan dengan lawan bicaranya. Seperti selalu aku terlalu pasif –apa mungkin ini bentuk kesombongan?-, bahkan kepada orang yang tak bisa melihatku. Tanpa memperkenalkan diri dia memulai percakapan. Aku tak ingat detilnya, tapi sepertinya ini mendekati :

Orang1    : “Masjid ini sangat besar ya? Saya tadi jalan dari depan sampai kesini rasanya lama. Ada 40 hektar ya?”

Insurgent : “Wah saya tidak tahu tuh pak, saya baru pertama kesini.”

Orang 1   : “Wah sama mas, saya juga baru pertama kesini. Dari dulu sudah kepingin banget sholat di Istiqlal, baru                                                   sekarang kesampaian. Dari mana mas?”

Insurgent : “Dari Tangerang pak. Bapak dari mana?”

Orang1    : “Dari Cianjur. Sama siapa kesini?”

Insurgent : “Sama teman-teman Pak. Bapak kesini sendiri?”

Orang1    : “Diantar sama keponakan, naik bis dari Cianjur. Alhamdulillah ngga macet, kalau macet bisa bisa masjid keburu ditutup.akhirnya kesampaian juga datang ke masjid ini. Saya sangat senang sekali, akhirnya saya punya rezeki yang cukup hingga bisa datang kesini”

Insurgent : “Iya Pak. (hal sekecil ini disikapinya dengan penuh syukur? Salut) Ma’af Pak saya tinggal wudhu dulu”.

Aku memotong percakapan. Kulihat Fitri memberi isyarat untuk segera mengambil air wudhu, dia sudah akan naik kelantai dua untuk jama’ah Isya. Selesai wudhu kulirik tempak Bapak tadi duduk, dia sudah beranjak. Tapi kulihat sekilas dia menaiki tangga dibantu seorang anak kecil yang berpakaian sama sederhanya. Tebakan yang paling mungkin, keponakannya. Keakraban, kata yang pertama muncul di kepalaku. Begitu seharusnya hubungan pemimpin-pemimpin negeri ini dengan rakyatnya, akrab. Bukan hanya dalam arti harfiah tapi juga dalam makna kiasannya. Apakah pemimpin-pemimpin negeri ini sudah ‘akrab’ dengan kepentingan-kepentingan rakyatnya?

Kembali ke orang pertama. Matanya memang tak bisa melihat, tapi kuyakin mata hatinya sebening embun dipagi hari di musim kemarau yang diwujudkannya dalam kesederhanaan penampilan, ketaatan akan agama, dan rasa syukur atas semua anugerah Tuhan. Dari orang pertama ini kuambil teladan, rasa syukur tak harus hadir dari hal-hal yang bersifat materi. Rasa syukur datang dari cara hati menyikapi apa yang telah terjadi.

Aku memasuki ruang utama. Tiang-tiang yang dulu kulihat di televisi saat siaran langsung sholat Ied dari Istiqlal kini menjulang tinggi persis dihadapanku. Besar, kokoh, mengisyaratkan tugas beratnya menopang kubah besar diatasnya. Kuawasi kubah terbesar yang pernah tertangkap indra penglihatanku itu, melengkung indah melindungi. Dijaman arsitektur modern seperti ini aku masih merasa kagum pada pencapaian manusia seperti ini. Bagaimana membangunnya? Bagaimana membuat lengkungan seperti itu? Bagaimana perhitungan menentukan beban masing-masing tiang agar beban yang dipikul sama rata? Untuk sebuah pencapaian manusia seperti ini saja, puluhan pertanyaan menyeruak dalam kepalaku. Lalu berapa ribu atau mungkin berapa juta pertanyaan untuk semua ciptaan Tuhan? Orang paling bodoh didunia ini adalah orang yang menyombongkan ilmu yang dimilikinya. Begitu kata hatiku. Dan aku sadar betapa bodohnya aku selama ini!!!!.

bersambung…

2 Tanggapan

  1. kawan kutunggu part-part selanjutnya

    • Hehehehehe, ditunggu ya!!!!
      Oya, ngomonk2 punya dikau mana? Ayo ngeblog, a tribute to Dian Sastrowardoyo, or someone else lah, hehehehehe…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: