Sinetron Generation???

media yg hadir di tengah2 keluarga Indonesia

media yg hadir di tengah2 keluarga Indonesia

Televisi, sebuah media hiburan yang memenuhi ruang keluarga sebagian besar rakyat Indonesia. Yang ironisnya, menyajikan tayangan yang sangat tidak bermutu sekali -sebuah hiperbola-, walau tidak semuanya, tapi 99%!!!!.

Sinetron, sebuah produk lokal yang tak perlu kita banggakan. Apa yang harus dibanggakan jika tema, kisah, bahkan pemainnya adalah sebuah kesamaan yang membosankan ? Kisah cinta yang tak direstui orang tua, harta warisan yang jadi rebutan atau perselingkuhan yang ketahuan ? Mungkin sebagai sifat manusia yang selalu dilanda euphoria. Tuntutan konsumen dijadikan alasan. Saat marak sinetron religi, semua stasiun tv seakan berlomba menayangkan sinetron yang paling Islami. Saat selera masyarakat berganti ke tema mistik, hal yang sama akan terjadi. Apa kultur kita tidak mengakomodasi ruang untuk sedikit ‘berbeda’? Semua seakan didesain untuk menghasilkan keuntungan-keuntungan materi, tanpa mempertimbangkan efek samping lain yang mungkin akan timbul. Aspek edukasi tak lagi menjadi referensi. Kalau sudah begitu kapan kita bisa menikmati tayangan televisi yang lebih bermutu?

Tapi syukurlah kita masih bisa sedikit lega. Saat ini setidaknya sudah ada stasiun-stasiun tv yang lebih peduli. Tanpa bermaksud promosi, metro tv dan tv one mewakili. Setidaknya dalam penyiarannya tidak ada jadwal untuk sinetron. Alih-alih sinetron, tayangan-tayangan mereka lebih bersifat edukasi. Ini pendapat pribadi. Berita, ilmu pengetahuan, isu-isu kritis, kita merindukan tayangan yang lebih berbobot. Seperti itulah seharusnya tayangan-tayangan yang dihadirkan di rungan keluarga-keluarga Indonesia. Long time education, be smart be informed!. Bagaimanapun, itu merupakan salah satu sarana mencerdaskan bangsa. Bukankah pikiran kita terbentuk dari apa yang kita lihat dan apa yang kita baca? Apa jadinya jika kita hanya punya referensi dari sinetron?

Mari kita sejenak berefleksi, Amerika sudah ‘menginjak-nginjak’ bulan -terlepas itu nyata atau rekayasa-, apa kita masih akan terpaku di depan layar kaca menonton tayangan tidak bermutu sebagai ‘makanan’ otak kita ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: