Paris, Je T’aime!!!

Paris__je_t_aimeSatu kota seribu cinta. Selain menikmati film-film Hollywood dengan pakem yang serba pasti, ada baiknya menikmati pula film Eropa, taruhlah seperti “Paris, Je T’aime”. Paris Je T’aime (yang artinya “Paris, aku cinta kamu”) pernah diputar di Blitz-Megaplex Bandung dan Jakarta. Beroperasi sejak awal tahun 2008, Jive! Collection -yang menjadi distributor film itu- akan memasukkan film-film yang tidak tergolong mainstream. Paris, Je T’aime adalah film pertama yang mereka masukkan. Film-film itu diedarkan pula dalam format video rumahan (home video).

“Hampir semua film yang direlease dalam format home video ini akan diputar di bioskop Blitz Megaplex,” tutur Ronny, Direktur Jive! Collection.

Katanya, pihaknya berencana mengeluarkan satu judul setiap minggu. Selanjutnya, mereka sudah punya daftar film untuk diedarkan, yakni The Host (Korsel, sutradara Bong Joon-ho), Jadde Warrior (Finlandia, sutradara Antti-Jussi Annila), Arthur and the Minimoys (Perancis, sutradara Luc Besson), dan 3-Iron(Korsel, sutradara Kim Ki-duk).

Aku cinta

Paris, Je T’aime (2006) sungguh film yang unik. Film yang diputar untuk pembukaan kategori Un Certain Regard di Festival Film Cannes tahun 2006 ini menghadirkan sekitar 20 sutradara terkenal serta deretan bintang ternama Amerika, Inggris, dan Perancis. Menyebut sebagian nama ternama itu, Elijah wood, Natalie Portman, Juliette Binoche, Gerard Depardieu, Nick Nolte, dan Maggie Gyllenhaal.

Film ini merupakan rangkaian dari film pendek, masing-masing berdurasi sekitar 5 menit, yang digarap masing-masing sutradara dengan derertan bintang yang sebagian namanya disebutkan diatas. Dengan demikian, ini seperti rangkaian dari cerita pendek. Setiap cerita mengambil lokasi di arrondissement (semacam distrik) yang berbeda-beda di Paris.

Dalam hal ini, Jive! sebagai distributor video rumahan bekerja cukup memadai. Mereka mengeluarkan semacam buku panduan untuk memberi latar belakang film ini. Termasuk dalam latar belakang itu, penjelasan mengenai arrondissement, yang merupakan bagian penting dari tiap cerita. Perlu diketahui bahwa Paris terdiri dari 20 arrondissement. Susunannya unik, arrondisesement di pusat, lalu melingkar keluar searah jrum jam urutan arrondissement sampai nomor 20. Dengan demikian, mestinya ada 20 cerita, tapi menurut keterangan, ada dua cerita dibatalkan.

Dengan kesatuan tema, yakni cinta, muncullah cerita-cerita pendek yang memukau. Misalnya sebuah ironi dalam cerita berjudul Tuileries (nama stasiun di Paris ). Disutradarai Joel dan Ethan Coen, film ini menggambarakan turis Amerika yang tengah membaca buku panduan kota Paris di Stasiun Tuileries. Paris adalah kota cahaya, Paris adalah kota kebudayaan…. Begitu lebih kurang kata buku panduan. Hanya saja pengalaman si turis di stasiun yang sepi itu, dia dihajar pemuda hanya karena memelototi si pemuda sedang pacaran, masih diketapel pula oleh bocah cilik yang tak diajar adat.

Atau juga Quais de Seine (sutradara Gurinder Chadha), tentang pemuda yang menggoda semua perempuan yang lewat di pinggiran sungai Seine, yang kemudian muncul kesadarannya mengenai perbuatannya yang kurang pantas ketika bertemu gadis cantik berjilbab. Pesannya jelas: singkirkan prasangka ras, agama, atau prasangka-prasangka lain.

Cinta nampaknya memang mudah muncul di Paris (kalau tidak percaya, tanya pialang seni Jais Hadiana). Secara pribadi, saya paling suka Pere-Lachaise, yang disutradarai Wes Craven.

Pere-Lachaise adalah kuburan para selebritis (nah, kalau ini benar-benar selebritis, bukan nama-nama di televise kita), seperti komponis Frederic Chopin, pelukis Amadeo Modiglilani, penulis drama Moiliere, samapi vokalis The Doors, Jim Morrison.

Seorang cewek, ketika berlibur bersama pacarnya, mengajak sang pacar mengunjungi kuburan itu. Si cewek ingin mencium nisan Oscar Wilde, penulis Irlandia itu. Sang cowok- seperti umumnya para yuppies masa kini- mana ngerti bepergian kok ke makam, apalagi melihat sang kekasih sampai mencium nisan.

Dalam film yang hanya lima menit, kita digetarkan dan dibikin tertawa oleh drama, ketika sang cewek meninggalkan cowoknya. Buat apa punya pacar kurang pengetahuan, begitulah kira-kira. Tiba-tiba si cowok terbentur kepalanya ketika bertengkar di makam dengan si cewek itu. Dalam mata yang berkunang-kunang, dia melihat lelaki tampan, dandy: siapa lagi kalau bukan Oscar Wilde.

“Kalau kau biarkan dia pergi, hatimu akan mati…,” nasihat hantu Wilde.

Langsung si cowok mengejar gadisnya.

“Maaf…,” katanya. “…bagaimana kau bisa berbahagia, bersama pria yang memperlakukanmu sebagai wanita normal,” tambah si cowok, entah dapat wangsit dari mana.

Si cewek kaget.

“Itu kata-kata Oscar Wilde yang paling aku suka…”

Ah, Paris… Cinta bisa berada di mana-mana…

2 Tanggapan

  1. saya paling suka creita quais de seine… ceritanya indah banget.. salah satu scene terbaik dan terindah yang pernah saya liat!!! love it

  2. […] oldish, saya lupa saya tua, hahahaha. Tua dan bangga . Tak perlu tepo lama, kunjungan kedua adalah decision time, to the point, saya tidak suka menunggu terlalu lama. Take it or leave […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: