Kura-kura

Siklus itu ada dan akan berproses dengan sendirinya.

Saya baru saja pindah rumah-dan kura-kura saya ikut. Sudah berapa kali saya pindah rumah? Mula-mula karena pindah dari kontrakan satu ke kontrakan yang lain, kemudian setelah punya rumah, masih juga dipersilakan pindah oleh banjir, yang memang datang berkali-kali tanpa tanda-tanda akan berhenti.

Dalam semua peristiwa itu, kura-kura tersebut selalu ikut. Waktu banjir besar tahun 2002 maupun 2007, kura-kura itu selalu menghilang, tetapi selalu kembali lagi, merayap melalui pintu depan setelah air surut. Bukankah banjir memang tak menjadi masalah bagi seekor kura-kura?

Dialah satu-satunya dari empat ekor kura-kura yang masih bertahan dalam gerusan waktu. Dua ekor langsung mati setelah dua minggu, yang dua bertahan lama bersama-sama. Sekarang, mungkin setelah 25 tahun, tinggal satu ekor. Sebetulnya itu bukan kura-kura saya, melainkan kura-kura anak saya. Saat pemiliknya mengepakkan sayap dan meninggalkan rumah, kura-kura itu tetap tinggal, tetap selalu menatap saya dengan pendangan seolah-olah mengerti.

Apakah yang bisa dimengerti oleh seekor kura-kura? Entahlah. Namun, ada yang coba saya mengerti dari pengalaman saling menatap selama 25 tahun itu.

Misalnya bahwa ia hidup sendirian dalam beberapa tahun terakhir, karena satu-satunya kura-kura yang menjadi teman hidup telah dibunuhnya. Mereka memang selau berebut makanan. Selalu saling menyakiti sehingga terlalu sering terapaksa saya memisahkannya. Teman yang satunya itu selau kalah dan selalu tertindas, tetapi selalu melawan agar tetap mendapat makanan.

Pertanyaan saya, apakah survival of the fittest ini masih harus berlaku ketika satu-satunya kolam hanya dihuni oleh dua kura-kura itu saja? Istilah “dunia milik kita berdua” bagi manusia tidak berlaku bagi kura-kura.

Apakah arti hidup bagi kura-kura yang telah menguasai dunia itu, jika sisa hidup, yang barangkali masih akan lama, dijalaninya sendirian saja? Apakah dia puas dan bisa menikmati kekuasaannya, ataukah dia kesepian? Melihatnya berenang sendirian, berjemur di bawah matahari, atau menyeret tubuhnya diantara kaki-kaki kursi di dalam rumah, saya melihat suatu paradoks: Disatu pihak, ia bagaikan seorang penguasa tunggal dalam dunianya; di lain pihak, ia tak lebih tak kurang hanyalah mahluk lemah, yang tentu saja tidak menyadari kelemahannya sama sekali.

Tapi, tidakkah kita semua kadang-kadang begitu?

oleh Seno Gumira Ajidarma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: