Gasing

dindaku,  putri cermin cina,

cinta kita hanya fana,

hanya sekelumit tatap mata

ketika aku tiba di negerimu

ketika ayahandamu, sutan mambang matahari, merestui kita

ketika tuan muda selat ingin mengujiku

dalam permainan gasing kegemaran kami

aku tahu cinta kita akan sampai

 

dinda, abadi cinta kita

seperti putaran gasing

yang bukan petaka, melainkan tanda

ketika gasing itu membentur keningmu

maka keabadian perlahan terbuka

dan tergurat di jiwaku

aku menyusulmu

bukan ke pelaminan atau peraduan penuh tilam

dan selimut beludru bersulam benang emas

aku menyusul hayatmu yang lenyap

bagai asap di tungku perapian

berjalan bergandengan ke negeri akhirat,

negeri abadi yang dijanjikan

 

bila kita ditakdirkan lagi berjumpa di bumi fana

maka dari seberang, dari dusun senanjang

aku senantiasa merindukan bayang wajahmu

jelita yang membias di tepi sungai,

kepedihan yang meruap ke langit jambi

sesekali kita bisa menjenguk ayahanda

yang semayam di dusun tengah lubuk ruso

atau bertandang ke kampung selat

penuh harap menatap cakrawala

 

tiada lagi rasa bersalah, tiada lagi dosa

sebab semua telah dinujumkan

segalanya akan kembali berputar seperti gasing

kita tiada paham di mana putaran itu akan berakhir

kita tiada mampu meraba arah takdir

semua penuh kemungkinan

sebab hidup seperti permainan gasing

Wayan Sunarta, 2008

Satu Tanggapan

  1. seperti mainan masa kecilku…
    ya… gasing…
    berputar di tanah…
    melubangi apa yang ada di bawahnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: