Bhakti Investama: A Catalist to the Progression of Investment Companies in Indonesia

Perusahaan kecil mengakuisisi perusahan besar seperti Porsche mengakuisisi VW tidak terjadi setiap hari. Inilah yang dilakukan juga oleh PT Bhakti Investama Tbk (BHIT). Didirikan di tahun 1989 sebagai sebuah perusahaan sekuritas di Surabaya, dalam kurun waktu lima tahun saja, BHIT di bawah kendali Harry Tanoesoedibyo telah menjelma menjadi salah satu perusahaan sekuritas utama Indonesia. Hanya saja, krisis yang terjadi di tahun 1997-1998 mengancam kelangsungan usaha BHIT yang go public di tahun 1997.

Tapi, tangan dingin Harry Tanoe bukan hanya sekadar menyelamatkan BHIT tapi bahkan membuatnya menjadi lebih besar. BHIT yang semula adalah perusahaan sekuritas, diubahnya menjadi sebuah investment  company. Yang menarik, proses ini terjadi ketika Indonesia sebetulnya berada di luar radar investasi global.

Dan Harry Tanoe tidak kekurangan akal. Memang kebanyakan investor global di antara 1997-1999 pada menjauh dari Indonesia. Meskipun demikian tetap ada investor asing yang punya minat untuk masuk ke Indonesia, terutama yang tidak mau waiting for the dust to settle.

Jadi, jangan kaget kalau saat anda browsing tentang peristiwa bisnis di akhir tahun 1990-an Anda akan menemukan investor asing sekelas George Soros yang ingin masuk ke Indonesia. Yang menarik, nama mega investor ini bukan hanya dikaitkan dengan sejumlah perusahaan publik Indonesia yang digosipkan masuk dalam daftar belanjaan dia, tapi juga dikabarkan dekat dengan pengendali BHIT, Harry Tanoe. Memang tidak jelas benar apakah yang kemudian dilakukan George Soros di Indonesia hanya gosip belaka atau bukan, tapi yang pasti, dengan ketelitian mengumpulkan dana investasi, Harry Tanoe berhasil membawa BHIT masuk Bimantara Citra di tahun 2001 dan menjadi pengendalinya setahun berikutnya.

Tapi, BHIT bukan hanya sekadar masuk dan mengendalikan Bimantara Citra, tapi berperan seperti layaknya investment company. Di perusahaan ini, BHIT melakukan restrukturisasi dengan melakukan identifikasi core business assets dan melepas non-core business assets. Dana yang diperoleh dari penjualan non-core business assets ini kemudian digunakan untuk memperkuat dan membuat core business assets menjadi sebuah holding company yang kuat.

Apa yang dilakukan BHIT itu kemudian mengilhami banyak perusahaan Indonesia lainnya, baik yang awalnya adalah perusahaan di financial service industry maupun yang bukan, untuk memperdalam dan memperluas perkembangan investment companies di Indonesia. Singkat kata, BHIT adalah katalisator kemajuan investment companies di Indonesia.

Oleh Hermawan Kartajaya

4 Tanggapan

  1. HOLLA KAWAN, lama gak berkunjung ke blog (hebat) ini,
    sekedar mau bertegur sapa sekaligus tukeran link jika sudi:
    http://bonggopribadi.blogspot.com/

  2. sudi🙂

  3. LET’S GROW 2GETHER,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: