A Dialogue

Pulang dari kampus tadi aku mampir ke warung burjo langganan di daerah Dumpit. Sudah cukup lama aku ga mampir, juga perut agak keroncongan. Karena uang tinggal 3000, jadilah aku mampir. Hehmm, mas2 yang jualan masih ramah, mungkin ini yang membuat warungnya lumayan ramai, setidaknya dibandingkan saingannya -warung sebelah- yang juga menjajakan bubur kacang ijo.
Yah, keramahan, memanusiakan manusia. Demi melihatku, sang mas2 menyungging senyum. Ku balas dengan sapaan (sok) akrab. Akhir-akhir ini aku sedang belajar untuk menjadi orang yang menyenangkan,๐Ÿ™‚.

Akupun memesan satu mangkuk penuh, yang langsung dibalas dengan anggukan, dan (sekali lagi) senyuman. Memang menyenangkan melihat orang tersenyum. Senyum yang tulus tentunya. Kalau ingat kalimat ini, saya jadi sangat terpukul saat ada yang bilang saya jutek,๐Ÿ˜ฆ. Walaupun aku tak tahu pasti apa artinya, tapi kedengaranya seperti hal yang tidak baik. Lain kali aku akan cerita banyak tentang tema ini, hehehe..
Hidangan siap, dan langsung kusantap. Dengan lahap, aku menghabiskannya. Hahahaha, dasar orang kelaparan…. Alhamdulillah, masih diberi rezeki sampai saat ini.

Selesai menikmati semangkuk burjo, aku mencoba berdialog dengan si mas2. Posisi saya sebagai seorang yang tertarik dengan entrepreneurship.
Dimulai dengan cerita soal serutan es yang katanya dia buat sendiri, yang aku kira bisa dibeli di pasar2. Lalu beralih ke tema permodalan. Masnya cerita kalau buka usaha ini, dia menghabiskan tak kurang dari Rp 5000000 sebagai modal awal. Hehhm, saya agak terkejut. Jumlah yang lumayan. Untuk gerobaknya saja menghabiskan dana lebih dari Rp 2000000. Pernah dengar sih dari teman, tapi setelah mendengar langsung dari yang menjalankan jadi lebih percaya. Obrolan berlanjut, dan kami semakin akrab.

Misiku yang lain, bergaul dengan sebanyak mungkin orang. Memang benar, networking merupakan hal yang vital dalam membangun bisnis. Dengan semakin luasnya pergaulan kita, sudut pandang kita semakin luas, semakin terbuka terhadap pemikiran-pemikiran baru, semakin kaya akan ide dan pengalaman. Brainstorming – bertukar ide.

Kami sampai pada percakapan yang menggelitik:

Saya: Laris mas? (sambil menjulurkan kepala ke panci tempat burjo, :norak)

Mase: Alhamdulillah mas, ada aja. Warnet gimana mas? Lancar? hehehe

Saya: Alhamdulllah ada aja mas, :gakreatif (kamipun tertawa bersama2)

Mase: Kalo cuaca cerah gini lumayan rame mas, orang ga males keluar rumah. Tapi kalo udah ujan, wahhh, sepi mas. Tapi bener kaya omongan mas kemarin, nikmati sajalah. hehe

Saya: Maksudnya?? :bingung

Mase: Iya, dulu kan mas pernah ngomong, apapun kondisinya, ya nikmati sajalah. Jangan suka mengeluh. Dan sejak saat itu, saat saya hendak berkeluh kesah, saya ingat kata2 mas tadi, emang bener juga,

Saya: Hehehe,

Saya selalu salut melihat orang-orang yang berdiri di atas kakinya sendiri. Sejelek-jeleknya, mereka tidak membebani orang lain, salut! Dan saya agak terkejut – ada sedikit rasa bangga juga- ternyata ada yang “mendengar” kata2 saya. Setidaknya saya berguna bagi orang lain, walaupun hanya dari sebuah kalimat yang pernah saya ucapkan. Tapi saya yakinkan anda, saya tidaklah sebijak kata2 yang pernah saya ucapkan. Tapi Ya, saya selalu berusaha๐Ÿ™‚

Sharing aja sih…

6 Tanggapan

  1. ternyata……

  2. kunjungan petang….mampir mampir lah…..

  3. naon…naon
    so2an pake bahasa sunda.kaya ngerti aja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: