Seminggu Sebelum Setahun

Manusia di penghujung mimpi,

March 30th, heading to 22.00

Menatap mentari pagi tadi, sehangat pagi yang sama, setahun yang lalu. Hangatnya menyeruak, memenuhi ruang kamar dua orang lajang perantauan dari antah-berantah. awan gelap masih bergelantungan di kepala salah seorang dari keduanya, merusak suasana pagi yang seharusnya hangat memberi semangat. Pagi itu tak secerah sinar yang menembus celah jendela. Pagi itu dia melankolis. Early morning blue.

Saat kita membangun impian, akan banyak keraguan yang datang. Mereka berkhotbah tentang statistik. Mereka mengoceh tentang retorika, mereka menteorikan ketidakpastian. Ah, dunia ini penuh kaum oportunis. Dunia ini disesaki kaum realis. Dan saat saya bercermin pagi itu, saya berkenalan dengan biang kerok dari itu semua. Seorang tua, dipenghujung mimpinya.

Aku ingin ke Paris. Duduk termangu menatap puncak Eifel, yang diterangi matahari senja musim panas di Eropa. Lalu malamya aku minta aurora, untuk datang sekedar menyapa, hati seorang pria yang sedang di kerumuni duka.

Lelaki itu pernah mengikrarkan janji, setahun yang lalu dimana langit sedang bercumbu bersama bintang gemintang, yang lalu bertandang sang bulan, bertiga mereka melukis malam. Seperti semua janji yang keluar dari mulut manusia, seperti semua ramalan yang dilontarkan semua cenayang, seperti semua mimpi yang pernah mampir ke alam imajinasi, akan ada proses bernama ujian.

Dan laki-laki tua itu berjalan melewatinya. Hari berganti minggu berganti bulan, si biang kerok masih mampu menghadapi ujian. Tapi, seperti sejak awal disadari, that day has come. The better has come, and the old-stubborn-yet-loving-her one must rip off the way. In just two weeks, the dreams running on ruin. In case you don’t know, he struggle, with his last bravery. And he failed.

This story is pretty objective, in case the other side has not supply the other story, with her version.

I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist. – Soe Hok Gie

2 Tanggapan

  1. Aku suka tulisan yang ini🙂 meskipun saya masih menerka maksudnya (^o^)V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: