Freedom – Jamur, Nikon FM2 dan Maret

Yang pergi dan yang datang. Yang lupa dan yang terkenang.

Pagi tadi baru saja saya rampungkan melahap novel keempat serial Supernova karya terkini mba Dee, Partikel. Agak mendahului antrian, karena novel pertamapun belum pernah saya sentuh, agagaaga. Tak mengapa, keteraturan kadang juga memuakkan, bukan berarti saya mendamba keacak-adutan. Disini saya bukan sastrawan, persetan dengan bahasa baku dan rancu yang saya pakai. Hiraukan, acuhkan, tinggalkan, lupakan.

Supernova 4 Partikel

Partikel

Kembali ke Partikel. Membacanya adalah sebuah pelarian, lari dari kelegaan, menyelam ke dalam kepala orang yang bagi para pencinta buku disebut pengarang. Dewi Lestari adalah seorang wanita cerdas, kelahiran 1976, Indonesia, dan menulis. Kata terakhir sepertinya yang membuat saya mereview dirinya. Saya suka buku. Saya cinta sastra. Sebenarnya siapapun pengarangnya, tidak masalah. Membaca itu proses intelegensi dari seorang manusia. Dan menulis melengkapinya dari sisi humanis religis, berbagi.

Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.

Bulan Maret sepertinya tidak bersahabat dengan orang-orang yang lahir di bulan September. Jangan tertawa, ini teori orang waras, suer deh. Bulan itu saya kehilangan banyak hal. Mungkin tidak banyak, tapi cukup massive. Tadi saya ngomong apa?

Zarah Amala. Tokok sentral novel ini mirip (tanpa ‘sekali’) dengan seorang Seto El Kahfi: keras kepala!. Menentang Abahnya yang seorang tokoh masyarakat, ulama, pemimpin umat, adalah sebuah inisialisasi dari kekerasan kepalanya. Belajar bersama seorang ilmuwan agnostik (ralat kalau saya salah), menjadikannya sangat open-minded. John Lennon sepertinya merasuk ke dalan sanubarinya dengan sukses.

Saya suka sains. Dan teori ayah Zarah tentang organisme awal yang tumbuh dan sampai sekarang masih bertahan bagi saya mewakili biologi, sejarah dan sedikit geologi. Jamur merupakan nenek moyang manusia, begitu menurut teorinya. Fungi, yang berada pada persimpangan antara hewan dan tumbuhan, mampu bertahan melewati fase evolusi bumi. Agak geli sat kita coba hubungkan dengan penyakit kulit pada virus terbaik yang ada di bumi, manusia. Membaca bagian awal novel ini mengingatkan saya kepada film berjudul The Journey To The Center Of The Erth, don’t you?

Dari novel ini, minat saya dengan dunia fotografi mencuat. Dulu pernah terbesit, hanya sekilas, tapi ada. Nikon FM2 yang diberikan oleh Simon Hardiman melalui permintaan Firas, kepada Zarah adalah tersangkanya. Entah kenapa, mendengar namanya seolah ada gelombang dengan frekuensi yang sama yang bergetar dalam tubuh saya saat itu. Nikon, seperti de javu. Ah, cuma perasaan dek Seto aja.

Nikon Fm2

Nikon FM2

Maret. Sendu. Biru.

Bukan tanpa alasan Nissan menamakan produk city car nya dengan nama bulan ketiga dalam kalender Syamsiah. Mari kita tebak: diperkenalkan pada bulan Maret? Sang desainer lahir pada bulan Maret? Maret itu ceria? Yan terakhir saya ragu. Maret dan waktu, bagi saya adalah komplotan yang dengan sukses menghajar seorang lajang dengan godam penghianatan (subjektif). Matahari pun bisa redup. Bintangpun bisa mati. Detik itu saya menolak lupa, sejurus kemudian saya sudah berdamai dengan masa lalu.

Masih perlukah aku bertanya atas sesuatu yang sebetulnya sudah kuketahui jawabannya?

Dan saat malam mulai bersahabat dengan kesendirian saya, momen itu ingin rasanya saya berada di sana. Menjadi William Wallace di pembaringan terakhir dihari penjagalannya. Dengan lekikan yang sama keras, dengan keberanian yang sama besar, berseru dengan lantang kepada tanah Inggris Raya,

Freeeeeeeedooooooommmmmm,

YorkShire,

Seminggu Sebelum Setahun

Manusia di penghujung mimpi,

March 30th, heading to 22.00

Menatap mentari pagi tadi, sehangat pagi yang sama, setahun yang lalu. Hangatnya menyeruak, memenuhi ruang kamar dua orang lajang perantauan dari antah-berantah. awan gelap masih bergelantungan di kepala salah seorang dari keduanya, merusak suasana pagi yang seharusnya hangat memberi semangat. Pagi itu tak secerah sinar yang menembus celah jendela. Pagi itu dia melankolis. Early morning blue.

Saat kita membangun impian, akan banyak keraguan yang datang. Mereka berkhotbah tentang statistik. Mereka mengoceh tentang retorika, mereka menteorikan ketidakpastian. Ah, dunia ini penuh kaum oportunis. Dunia ini disesaki kaum realis. Dan saat saya bercermin pagi itu, saya berkenalan dengan biang kerok dari itu semua. Seorang tua, dipenghujung mimpinya.

Aku ingin ke Paris. Duduk termangu menatap puncak Eifel, yang diterangi matahari senja musim panas di Eropa. Lalu malamya aku minta aurora, untuk datang sekedar menyapa, hati seorang pria yang sedang di kerumuni duka.

Lelaki itu pernah mengikrarkan janji, setahun yang lalu dimana langit sedang bercumbu bersama bintang gemintang, yang lalu bertandang sang bulan, bertiga mereka melukis malam. Seperti semua janji yang keluar dari mulut manusia, seperti semua ramalan yang dilontarkan semua cenayang, seperti semua mimpi yang pernah mampir ke alam imajinasi, akan ada proses bernama ujian.

Dan laki-laki tua itu berjalan melewatinya. Hari berganti minggu berganti bulan, si biang kerok masih mampu menghadapi ujian. Tapi, seperti sejak awal disadari, that day has come. The better has come, and the old-stubborn-yet-loving-her one must rip off the way. In just two weeks, the dreams running on ruin. In case you don’t know, he struggle, with his last bravery. And he failed.

This story is pretty objective, in case the other side has not supply the other story, with her version.

I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist. – Soe Hok Gie

KamSeUPay!!!

Kamseupay, kamseupay!

Akhir-akhir ini saya sering membaca status orang-orang di facebook saya, yang isinya kata aneh di atas. Pertama membacanya sih biasa saja, melihatnya berkali-kali yang menumbuhkan rasa penarasan :D. Bukankah cinta juga seperti itu, datang karena terbiasa? Jalaran saka kulina??. Cinta bisa tumbuh karena seringnya menghabiskan waktu bersama. Maaf-maaf OOT, masih terbawa suasana :).

Kembali ke kamseupay. Sebenarnya ini adalah tagline iklan dari salah satu provider Indonesia, yang saya juga pakai produknya. Mungkin gara-gara jarang nonton tivi, saya belum sempet mendapatinya di layar kaca. Sepertinya Indonesia memang negeri yang suka heboh. Tidak butuh waktu lama untuk kata-kata ini menjadi setenar Shinta Jojo ataupun Briptu Norman. Di twitter, banyak yang berkicau tentang arti kata ini. Di google suggest (kata yang muncul otomatis saat kita mengetikkan kata kunci di kolom search google) juga banyak variasi keyword untuk kata aneh ini. Memang rasa penasaran bisa membunuh, ahahaha. Baca lebih lanjut

Sharing Anything

Minggu pagi berbagi 😀

Dua posting terakhir saya disini judulnya berima -ing, mulai dari yang ini Arranging Everything, Listening Something. Minggu pagi ini minggu ketiga program belajar bersama di NANO/COmputer/Corner. Indahnya berbagi, ahahaha, kaya iklan di bulan Ramadhan :D. Program ini sebenarnya bermula dari celotehan saja, berkembang menjadi sebuah tindakan nyata #halahhh.

Politik etis?? Mungkin bukan itu kata yang tepat. Ini merupakan sebuah langkah kecil -terlampau kecil- dibandingkan dengan perjuangan para guru di perbatasan, di hutan belantara Papua (namanya Butet kalo ga salah, pernah tampil di Kick Andy). Mereka tanpa pamrih, dengan fasilitas yang amat sangat terbatas. Nah kami disini? Niat hanya ada di hati, dan yang benar-benar tahu kan Tuhan dan orang itu sendiri.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain

Mungkin terkesan klise. Hari gini gratis?? Bahkan pernah ada orang tua anak yang ingin belajar yang menanyakan langsung kenapa gratis. Mungkin memang sudah jarang hal-hal gratis yang bisa rakyat kecil temui di negara kita tercinta ini. Jadi saat ada yang menyodorkan ke-gratisan, wajar saja perlu dipertanyakan. Memang kritis itu perlu, sangat perlu di era seperti ini.

Pada akhirnya hanya yang benar-benar mempunyai niat yang kuat yang akan konsisten melakukan sesuatu yang dia yakini. Saat brosur disebar, antusiasme yang mau belajar banyak. Banyak yang bertanya kapan, jam berapa, syaratnya apa saja, dll. Tapi pada akhirnya yang memang berniat -bukan sekedar mau- yang akan take action. Dan walaupun cuma 4 anak-anak yang konsisten belajar, setidaknya hidup saya berguna bagi 4 anak tersebut :D. Happy sharing…

More info at:   NANO/Computer/Corner

Arranging Everything, Listening Something

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius dan sporadis. Namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal sekecil apapun terjadi karena sebuah kebetulan”

Bagi yang sering mellihat status-status saya di Facebook, atau yang sering membaca apa-apa yang saya tulis di internet, pastinya sering membaca kutipan di atas. In case you don’t know, kutipan di atas adalah kreasi dari seorang Andrea Hirata. Saya sendiri mengenal bang Ikal -panggilan sok akrab saya :P- sejak pertama dikenalkan dengan Laskar Pelangi oleh teman masa kecil saya. Thanks Yul 😀

Andrea Hirata

Andrea Hirata

Baca lebih lanjut

What’s going on?

Holaaaaa…. It’s long time not see this first-and-still blog I’ve ever created. Yeah, banyak hal terjadi selama kurang lebih 3 bulan ini, itungan kasarnya sih segitu, hehe. Hujan angin, kemarau kering, malam gelap, pagi yang cerah, dan awan yang mendung silih berganti. Dan the wheel of life is always cycling, not so weird heh?. Ok, sudah tahun 2012, dan 5 tahun lalu saya belum seperti ini. Benar kata pepatah:

Lima tahun dari sekarang kita akan sama saja, kecuali dua hal. buku yang anda baca dan orang-orang disekitar anda Baca lebih lanjut

Tentang Satu Bulan Yang Telah Berlalu #3

Kesetiaan itu sesuatu yang perlu dibuktikan. Dan pembuktian itu memerlukan waktu yang lama, tak cukup tiga purnama

sebuah kontinuitas dari postingan ini: Tentang Satu Bulan Yang Telah Berlalu #2 

Pertama kali kenal olahraga sepak-menyepak bola, umurku saat itu baru belasan. Belasan awal, yaitu 10, 11, 12 atau 13 tahun saat saya masih duduk dibangku smp, SMP N 3 Kebumen :). Saya ingat persis pertama kalinya saya membeli sebuah poster klub sepakbola. Saat itu adalah akhir musim kompetisi Serie-A Liga Italia, dengan AS Roma muncul sebagai peraih scudetto atau gelar juara. Dan otak polos saya (polos tentang sepakbola) langsung jatuh cinta sama klub ini. Karena yang pertama datang, akan selalu menggetarkan. Ya, mulai saat itu saya punya sebuah klub yang anak-anak seusia saya bilang ‘klub jagoan saya’. Dan tak lama, kamar saya terisi sebuah poster. Romanisti baru lahir.

Tentang AS Roma, saya terkesan pada sang kapten, Francesco Totti. Beersama Vincenzo Montella dan Gabriel Batistuta, bertiga mereka menjadi trisula mematikan di Liga Italia musin 2000-2001. Dengan ban kapten di lengan, Francesco Totti menjadi pemain jangkar dan memimpin skuad AS Roma yang kala itu diasuh Fabio Capello merebut scudetto dari rival sekota, SS Lazio. Baca lebih lanjut