Strategi “in Action”

Bulan ini adalah bulan strategi. Di mana-mana kita lihat tempat pertemuan penuh dengan kelompok-kelompok “think tank” perusahaan yang memeras otak untuk menentukan strategi di tahun mendatang. Di samping menentukan target pertumbuhan perusahaan, biasanya diputuskan juga kebijakan untuk mengembangkan, meningkatkan, menurunkan, memotong, dan tindakan-tindakan lain, yang diramalkan bisa menjamin berkembangnya perusahaan. Strategi kemudian juga akan dituangkan dalam bentuk rencana kerja tahunan, bulanan, bahkan mingguan. Meninggalkan raker, biasanya masing-masing eksekutif bernapas lega dengan keyakinan “if it works, anything goes”.

Namun demikian, kita sadari bahwa strategi dan rencana bisa berbeda dengan kenyataan dan ‘action’ di lapangan. Tidak semua hal bisa kita rencanakan, prediksi dan antisipasi. Ada hal-hal yang tidak disangka-sangka, seperti pesatnya perkembangan atau sebaliknya kekacauan, baik dalam hal poleksosbudhankam, komitmen maupun kompetensi, sehingga bisa saja jalan bisnis jadi tidak “smooth” atau bahkan macet total untuk sementara waktu. Katakanlah perjanjian antara dua korporasi yang sudah mantap, kemudian dengan mudahnya diingkari oleh para eksekutifnya. Bahkan jual beli yang sudah terjadi, bisa-bisa ditinjau ulang kembali. Masalah kerja sama lintas divisi yang terasa indah pada saat perencanaan ternyata juga bisa macet di tengah jalan. Hal ini terkadang bisa membuat semangat merencana kemudian mengempis ketika kita mengimplementasi. Kenyataan seperti ini sering menyebabkan banyak orang lemas sebelum berperang dan sebelum berstrategi. Sering muncul di dalam benak, “theory is one thing, but putting it into practice is another”.

Berorientasilah Pada “Action”!

Berstrategi memang mutlak diperlukan, namun tidak boleh sampai menghambat kita untuk bergerak melakukan action nyata dan segera. Di Indonesia, Telkomsel yang mempunyai jumlah pelanggan terbesar di Indonesia tidak pernah memprediksi perkembangannya akan sepesat ini 10 tahun yang lalu. Perusahaan ini memasuki pasar dengan menyelinap di kabupaten-kabupaten, membagikan kartu Halo gratis, tanpa memikirkan terlalu banyak konsekuensi dari tindakannya.

Perusahaan seperti Yahoo! adalah perusahaan yang menganut cara berkembang yang “simple-simpel saja”. Adanya kompetisi yang tidak terbatas, tidak adanya kemungkinan untuk menutup “followers” atau “tukang tiru”, tidak mudahnya menarik bayaran dari pelanggan, menyebabkan founder perusahaan tersebut justru tidak berpikir keras, tetapi mempunyai cara unik untuk memenangkan persaingan bisnis yang tidak ada di textbook manapun. Yahoo! tanpa pikir panjang mencemplungkan diri ke pasar cyber dengan perhitungan yang sama sekali tidak matang. “Yang penting masuk dulu,” kata founders yang bermodalkan komputer tua dan ide segudang itu. “Jangan takut memasuki situasi yagn tidak jelas, maju terus, tangkap-gali- selami kesempatan, dan jaga energi sampai akhir,” demikian nasihat pimpinan perusahaan Yahoo!

Kalau Bisa Simpel, Kenapa Mesti “Ribet”?

Kadang-kadang saya yang sudah lama bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia bisa dibuat bingung dengan skema-skema dan rencana pengembangan strategik SDM yang di buat lembaga atau perusahaan klien-klien saya sendiri. Skema kompetensi, pengembangan organisasi, people development, dan pengukuran kinerja dibuat sedemikian canggih, rumit, kompleks, dan meng-cover sekian banyak aspek dan situasi sehingga untuk mengisi lembar penilaiannya saja sudah diperlukan waktu berjam-jam, apalagi merealisasinya.

Kita semua tahu, bahwa mecari esensi memang rumit, tetapi bila kita melakukan sesuatu yang sesensial maka efektivitasnya pun akan terlihat nyata. Nenek saya sering menasehati, “Jangan bunuh lalat dengan bom”. Di zaman modern ini mungkin terjemahannya, “Kalau bisa yang simpel, kenapa mesti yang repot-repot?”

Strategi “How To” Memudahkan Karyawan Berespon Cepat

Strategi baru bisa saja efektif tampil dalam bentuk action yang nyata bila diterjemahkan sampai ke “how to” atau panduan bertindak, sehingga sampai membuat karyawan “tahu apa yang perusahaan mau”. Misalnya, apa yang harus dilakukan karyawan kalau mempunyai ide? Bagaimana mengimprovisasi prosedur? Bagaimana sikap saat melihat kesempatan? Bagaimana menggali dan memenuhi kebutuhan spesifik pelanggan?

Bahkan “how to” yang tajam bisa membentuk budaya perusahaan tanpa susah-susah mengumandangkan perubahan atau pengembangan perusahaan. Aturan seperti: “jawab setiap pertanyaan, email, dan permintaan yang diterima selambat-lambatnya tiga jam pada hari kerja”, “staf back office dan front office harus bertukar tempat setahun sekali paling tidak selama dua minggu untuk mengembangkan wawasan dan kretivitas”. Seringkali aturan seperti ini lebih bermakna daripada membuat sasaran, diikuti action plan yang muluk-muluk. Tentunya “how to” juga perlu diikuti dengan batas-batas yang simpel dan jelas pula, misalnya “kita akan menutup cabang yang dalam setahun tidak mencetak laba”, atau “kita tidak akan melayani pelanggan yang memberi revenue sedikit tetapi menuntut servis yang berlebihan”.

Hal-hal yang biasanya terbaca dalam manual perusahaan yang jarang dibuka-buka, bila esensial, lalu disosialisasikan dengan serius, terbukti bisa mengarahkan karyawan kepada suasana kreatif, berani dan terarah. Sepanjang kita mampu memberi esensi respons yang tepat sebagai panduan kinerja, karyawan pasti lebih happy, kreatif dan inovatif.

Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

Organization Development

Iklan

The 12 CS of New Wave Marketing

Era New Wave marketing memang sangat di pengaruhi oleh perkembangan teknologi.
Perkembangan peradaban manusia berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Dari berbagai literatur bisa disimpulkan bahwa sebenarnya ada lima tahap perkembangan peradaban manusia.
Perkembangan ini mulai dari manusia sebagai pemburu dan pengumpul, lalu sebagai petani, sebagai pekerja pabrik, sebagai pekerja di sektor jasa dan teknologi informasi, dan saat ini sebagai pekerja kreatif (creative worker).
Dominasi dalam pekerjaan kreatif inilah yang merupakan eranya New Wave.
Jika sebelumnya kehadiran teknologi mendorong produktivitas (technology driving productivity) dan berkembangnyua informasi, maka pada era New Wave ini teknologi mendorong lahirnya kreativitas (technology driving creativity) dan tumbuhnya partisipasi. Semakin banyak orang yang bisa ter-connect satu sama lain untuk berpartisipasi, untuk belajar, dan untuk menciptakan sesuatu.
Seperti yang dikatakan Scoot McNealy, Chairman Sun Microsystem, di Era Informasi alias Era Legacy Marketing, yang akan menguasai pasar adalah mereka yang mampu mengendalikan proses penciptaan dan pendistribusian informasi. Baca lebih lanjut

Perilaku Orang Kaya

Benar, yang namanya orang kaya juga manusia biasa. Sebagai manusia biasa pasti ada sisi baik dan ada juga sisi buruknya. Lantas, bagaimana perilaku orang-orang kaya yang layak dijadikan referensi?

Bekerja lebih keras. Benar, sebagian orang menjadi kaya karena mendapatkan limpahan warisan keluarga. Tetapi, jauh lebih banyak mereka yang menjadi kayak arena bekerja lebih keras dari orang kebanyakan. Bekerja lebih keras disini berarti secara fisik dan pemikiran. Mereka juga melakukan banyak pengorbanan materi maupun nonmateri. Mereka bergaul lebih luas, membangun jejaring dengan banyak orang. Mereka meluangkan waktu dan menepiskan kesenangan pribadi.Dan ini dimulai dari niat untuk kemudian dilaksanakan konsisten. Singkatnya, bekerja lebih keras dan lebih cerdas mestinya akan memberikan hasil yang lebih banyak ketimbang orang yang tidak bekerja keras.

Kekayaan sebagai “sahabat”

Orang kaya yang bekerja keras, memahami kekayaan yang diperoleh bukanlah imbalan atau hadiah, melainkan akibat atau konsekuensi dari apa yang diperbuat. Dengan demikian, kekayaan bukanlah  sesuatu yang ditunggu dan atu diberikan pihak lain, tapi sesuatu yang diraih dengan Baca lebih lanjut

High School Musical: Activating the Youth Community

Anda tahu film “High School Musical” (HSM)? Film televisi buatan Disney ini sangat populer di kalangan anak muda saat ini. Penayangan perdananya di Amerika ditonton oleh sekitar 7,7 juta orang. Sementara di Inggris penayangan perdananya disaksikan sekitar 789 ribu pemirsa.

Secara singkat, film ini mengambarkan perjuangan dua orang murid sebuah SMA di Amerika untuk mengikuti audisi pemeran utama pertunjukan sebuah drama musikal di sekolahnya. Dengan dukungan teman-temanya, kedua murid yang bernama Troy Bolton dan Gabriella Montez itu akhirnya mendapatkan peran yang mereka idamkan tersebut.

Film ini pun ditutup dengan indah. Seluruh murid sekolah berkumpul bersama di gym sambil bernyanyi dan menari.

Nah, sebenarnya agak klise, bukan? Namun, film ini menjadi sangat menarik karena dikemas dalam bentuk drama musikal. Jadi, di sana-sini dihiasi oleh tarian dan nyanyian yang sangat memikat dari para pemeran film HSM ini.

Inilah film televisi paling sukses yang pernah diproduksi Disney. Film yang diluncurkna pada 20 Januari 2006 ini memenangkan 2 Piala Emm Baca lebih lanjut

Sellaband: When musicians meet their “believers”

Anda seorang musisi baru dan tidak punya dana untuk melakukan rekaman di studio secara professional? Jangan khawatir, anda bisa bergabung ke situs Sellaband (www.sellaband.com), mengumpulkan dana disitu, lalu melakukan proses rekaman layaknya musisi professional. Ya, inilah salah satu terobosan dalam industri musik di era New Wave Marketing ini. Fans anda di seluruh dunia bisa ikut mendanai proyek rekaman anda. Sebaliknya, kalau anda yang jadi fans musisi yang ada di Sellaband, anda pun bisa ikut mendanai proyeknya, walaupun tidak kenal musisi tersebut.

Model bisnis Sellaband ini memang unik. Situs musik yang diluncurkan di Bocholt, Jerman oleh Johan Vosmeijer, Pim Betist, dan Dagmar Heijmans pada Agustus 2006 ini melibatkan para fans secara aktif untuk mendukung musisi yang digemarinya sejak awal proses rekaman. Disini para musisi diperlakukan layaknya sebuah perusahaan yang akan melekukan IPO. Jadi, Sellaband akan menerbitkan semacam “saham”. Saham Baca lebih lanjut

It’s not segmentation anymore, it’s communitization!

Dalam Legacy Marketing, langkah pertama untuk menyusun strategi marketing adalah dengan melakukan segmentasi. Namun dalam era New Wave Marketing saat ini, yang harus dilakukan bukanlah melakukan segmentasi, tapi Communization.

Ya, New Wave Marketer harus bisa membentuk suatu komunitas yang ada. Definisi komunitas sendiri ada macam-macam. Namun, bagi saya, definisi yang paling tepat adalah definisi yang terdapat dalam buku The Cluetarin Manifesto.

Didalam buku ini, komunitas didefinisikan sebagai sekelompok orang yang saling peduli satu sama lainlebih dari yang seharusnya. Jadi, dalam komunitas terjadi relasipribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. beda denga segmentasi yang anggota segmennyabisa tidak peduli satu sama lain.

Inilah salah satu perbedaan yang jelas antara segmentasi dengan communization. Kemudian dalam segmentasi, pembentukannya dilakkukan oleh perusahaan sehingga sifatnya vertical. Prosesnya berlangsung dari atas ke bawah. Pelanggan dan calon pelanggan dianggap berada di bawah produsen.

Sementara dalam communization, pembentukannya dilakukan oleh orang per orang yang setara sehingga bersifat horizontal. Juga dalam Baca lebih lanjut

Wiraswasta, Menciptakan Yang Belum Ada

Apa yang dikerjakan Wawan Juanda tidak persis sama dengan yang dikerjakan Yoris Sebastian. Meski begitu, ada yang menghubungkan mereka, yaitu selalu mencari ide baru yang inovatif. Wawan dan Yoris sama-sama menciptakan bisnis yang tadinya belum ada. Wawan adalah creator pertunjukan atau festival, Yoris menawarkan jasa konsultasi yang memberikan ide-ide kreatif untuk klien yang mau menjalani bisnis dengan cara “tidak lazim” alias dengan cara “Oh My Goodness”.

Salah satu syarat bertumbuhnya industri atau ekonomi kreatif adalah keberadaaan para wiraswastrawan. Ide-ide kreatif memerlukan kecakapan kewiraswastaan untuk dapat menjadi industri atau kegiatan ekonomi. Lebih dari hanya menciptakan bisnis, wiraswastawan harus memiliki karakteristik khas yang seperti disebut Donald F Kuratko dan Richard M Hodgetts (Entrepreneurship: Theory, Process, and Practices; 2004) juga meliputi mencari peluang, berani mengambil resiko, dan memiliki kegigihan mewujudkan ide-ide menjadi kenyataan, yang berkombinasi dalam cara inovatif.

Wawan awalnya praktis bekerja sendirian. “Hanya saya dan gagasan saya. Asset saya adalah otak saya, jadi saya harus bekerja sama dengan banyak orang dan para  event organizer untuk membikin suatu pertunjukan,” kata Wawan. Tantangan terberat Wawan pada awal usahanya 10 tahun lalu adalah membuat jejaring dengan para perencana kegiatan. Tantangan lain adalah memastikan gagasan dapat diterima oleh para Baca lebih lanjut