Piaraan Pantai

Aku mengenal sungai,

setua bumi,

sedekat urat nadi.

Di dadaku,

udang dan ganggang masih silang terkembang. Tapi,

jauh di bawah pusar, tempat laut dalam tak sadar,

seorang lelaki

berjubah lunglai

membungkuk,

mencucup lubang gaib, dimana senja mengintip,

mirip singa buta, penunggu Sungai Tua.

Sedang, di sekelilingnya,

angsa-angsa mengerami mimpi,

seperti menggarami pandangku

dengan bunyi bibit sunyi,

yang lebih panjang

dari Mississippi

(2008)

A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini bergiat di Komunitas Rabo Sore dan bekerja sebagai editor pada sebuah penerbit di Surabaya.

Iklan

Pasir Terukir

Siapa suka mengukir pasir,

akan sampailah ia ke pinggir:

tempat dimana burung-burung

tak (lagi) takut terkurung,

dan perahu pemburu

tersangkut

di puncak kabut:

mungkin itu rumah senja,

mungkin sarang bianglala,

tapi apa bedanya?

Seorang tualang

bukan juru peta,

dan kitab angin yang dikhatamnya,

adalah rangkaian cinta

dari codot-codot yang terus setia,

tanpa rumah.

 

A Muttaqin, 2008

 

Ciuman Cucut

Sebelum aku dikhianati,

berikan cintamu, yang rinai

seperti ciuman Yudas yang tak mengerti

kenapa laut tak pernah letih menepi

dan ikan-ikan tetap seamis birahi

biar seumur-umur ia mencuci diri.

Ciumlah,

selagi laut tertidur, dan cumi-cumi merebak ke

dasar mimpi, lalu

menghitami mahkota duri

yang kan aku kenakan,

sebelum tersalib di batu-batu karang.

Sementara kau terus berkibaran,

seperti sobekan kafan yang tak bosan-bosan

mengelabui isi lautan

 

A Muttaqin, 2008

Layar Sepijar

dia setabah jantung cahaya,

berlayar dari bunga ke luka.

Dia hanya mata Bangka,

terhunus

terus

ke tengah,

seolah memenuhi panggilan pembawa warta,

dan lambaian rahasia.

Sementara,

malam telah menarik segala satwa,

hingga sepi leluasa memilikinya,

seperti satu gigi yang tinggal

di mulut Gerhana.

A Muttaqin, 2008

Kerang Kasmaran

Di kedalaman ini, aku masih merindukanmu:

Kau yang hanya putih,

putih yang tak pandai mimpi,

putih yang lebih tenang timbang ragi,

putih yang tak menyimpan iri

pada warna warni taman ini,

putih yang tak sembarang

memberi getah mani

pada liuk luka, atau aku, yang terbuka

serupa garba sepi, sendiri, di taman laut ini.

Sebab, kau hanya jamur, terlalu pupur

menampung geliat gatal

yang tak terlipur angin libur.

Wayan Sunarta, 2008