Bhakti Investama: A Catalist to the Progression of Investment Companies in Indonesia

Perusahaan kecil mengakuisisi perusahan besar seperti Porsche mengakuisisi VW tidak terjadi setiap hari. Inilah yang dilakukan juga oleh PT Bhakti Investama Tbk (BHIT). Didirikan di tahun 1989 sebagai sebuah perusahaan sekuritas di Surabaya, dalam kurun waktu lima tahun saja, BHIT di bawah kendali Harry Tanoesoedibyo telah menjelma menjadi salah satu perusahaan sekuritas utama Indonesia. Hanya saja, krisis yang terjadi di tahun 1997-1998 mengancam kelangsungan usaha BHIT yang go public di tahun 1997.

Tapi, tangan dingin Harry Tanoe bukan hanya sekadar menyelamatkan BHIT tapi bahkan membuatnya menjadi lebih besar. BHIT yang semula adalah perusahaan sekuritas, diubahnya menjadi sebuah investment  company. Yang menarik, proses ini terjadi ketika Indonesia sebetulnya berada di luar radar investasi global.

Dan Harry Tanoe tidak kekurangan akal. Memang kebanyakan investor global di antara 1997-1999 pada menjauh dari Indonesia. Meskipun demikian tetap ada investor asing yang punya minat untuk masuk ke Indonesia, terutama yang tidak mau waiting for the dust to settle.

Jadi, jangan kaget kalau saat anda browsing tentang peristiwa bisnis di akhir tahun 1990-an Anda akan menemukan investor asing sekelas Baca lebih lanjut

Iklan

A Tale of Three Communities: Harley-Davidson, Facebook and HTML

“So screw it, let’s ride.”

Maaf sebelumnya kalau kata-katanya sedikit ofensif. Tapi, tahukah Anda, siapakah yang mengatakan kalimat tadi?

Itulah slogan terbaru dari Harley-Davidson yang diluncurkan pada awal Mei 2008  lalu. Kalimatnya memang sedikit ofensif, namun hal ini justru cocok dengan citra pemberontak yang melekat pada perusahaan motor besar asal Milwaukee tersebut.

Slogan tersebut memang mengacu kepada situasi ekonomi Amerika yang kurang baik. Dengan slogan ini, Harley seolah ingin mengatakan, tak usah terlalu mempedulikan situasi ekonomi saat ini. Nikmatilah hidup dengan mengendarai Harley.

Harley memang sangat memperhatikan para pelanggannya. Harley mampu berempati terhadap apa yang dirasakan oleh pelanggannya.

Karena berhasil meraih pelanggan ini, tidak heran jika Harley bisa memiliki komunitas fanatik yang tergabung dalam Harley Owners Group(HOG).

HOG memang merupakan contoh klasik dari pembentukan komunitas offline yang sukses.

Sekarang, bagaimana dengan komunitas online?
Salah satu contoh sukses tentu saja adalah Facebook.

Situs social media yang genap berusia 6 tahun ini –Mark Zuckerberg meluncurkan Facebook dari kamar asramanya di Harvard University pada 4 Februari 2004- perkembangannya sangat luar biasa.

Saat ini saja jumlah anggota aktifnya sudah mencapai 110 juta orang! Padahal, pada Desember 2004, jumlah anggota aktifnya baru mencapai 1 juta orang.

Komunitas Harley-Davidson dan Facebok ini adalah contoh Social Connector. Social Connector berbasis komunitas inilah yang menjadi jenis connector  ketiga setelah Mobile Connector dan Experiential Conector yang sudah dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Nah, selain Harley-Davidson yang bersifat pure offline dan Facebook yang pure online, masih ada satu lagi jenis Social Connector ini, yaitu yang merupakan hibrida antara online dan offline.

Salah satu contohnya adalah komunitas Honda Tiger Indonesia, atau yang online community-nya lebih dikenal sebagai Honda Tiger Mailing  List (HTML).

Komunitas ini dibentuk pertama kali pada 18 Oktober 2000, yaitu saat milis HTML tersebut dibuat. Berbeda dengan HOG tadi, komunitas ini dibentuk dari bawah, dari para pemilik dan penggemar motor Honda Tiger sendiri.

Berbagai komunitas di atas memang mampu memberikan pengaruh yang tidak kecil terhadap lanskap bisnis. Inilah yang menunjukkan peranan Connector -dalam hal ini Social Connector- dalam lanskap New Wave Marketing.

Artikel ini dilacak oleh Dell!

Di beberapa artikel lalu, pernah kami ceritakan mengenai cerita seorang blogger narsis yang meneror Dell lewat situsnya Dell Hell. Michael Dell, sebagaio pendiri Dell sempat kalang kabut. Ketika itu Michael mengatakan,

“Lebih baik orang-orang bercerita tentang kita, baik atau buruk, di dalam ‘rumah’ kita sendiri, ketimbang ditempat lain.”

Itu pemikiran awal yang sekiranya mendasari alasan kenapa Dell membuat berbagai macam platform (direct2dell, ideastorm, dan lain sebagainya) untuk komunitas mereka. Langkah itu pula yang menandai transformasi praktek customer management di Dell dari yang tadinya hanya didukung oleh sistem one-to-one CRM yang apik, kini bergerak ke customer management yang lebih berorientasi pada komunitas.

Platform atau wadah untuk komunitas tersebut juga menandai langkah drastis Dell untuk berubah dari vertikal ke horizontal, dimana mereka tak lagi ingin dicap sebagai perusahaan yang angkuh, melainkan sebagai perusahaan yang ingin senantiasa mendengar dan terjun ke komunitas untuk diajak kolaborasi dalam proses penciptaan nilai pemasaran.

Michael Dell seakan ‘parno’ dengan insiden memalukan seperti Dell Hell tersebut, sehingga harus menyewa beberapa konsultan sosial media yang secara spesifik bertugas untuk melacak segala percakapan di dunia maya yang berhubungan dengan Dell. Jadi, contohnya, ketika artikel ini (dan artikel-artikel sebelumnya yang bercerita tentang Dell) dimuat di kompas.com, secara otomatis  akan terlacak di kantor Dell dan terukur nilai sentimen serta impact-nya bagi Dell dan konsumen-konsumen lain. Hebat bukan? Ternyata di Dell, langkah continuous improvement bukan Baca lebih lanjut

The 12 CS of New Wave Marketing

Era New Wave marketing memang sangat di pengaruhi oleh perkembangan teknologi.
Perkembangan peradaban manusia berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Dari berbagai literatur bisa disimpulkan bahwa sebenarnya ada lima tahap perkembangan peradaban manusia.
Perkembangan ini mulai dari manusia sebagai pemburu dan pengumpul, lalu sebagai petani, sebagai pekerja pabrik, sebagai pekerja di sektor jasa dan teknologi informasi, dan saat ini sebagai pekerja kreatif (creative worker).
Dominasi dalam pekerjaan kreatif inilah yang merupakan eranya New Wave.
Jika sebelumnya kehadiran teknologi mendorong produktivitas (technology driving productivity) dan berkembangnyua informasi, maka pada era New Wave ini teknologi mendorong lahirnya kreativitas (technology driving creativity) dan tumbuhnya partisipasi. Semakin banyak orang yang bisa ter-connect satu sama lain untuk berpartisipasi, untuk belajar, dan untuk menciptakan sesuatu.
Seperti yang dikatakan Scoot McNealy, Chairman Sun Microsystem, di Era Informasi alias Era Legacy Marketing, yang akan menguasai pasar adalah mereka yang mampu mengendalikan proses penciptaan dan pendistribusian informasi. Baca lebih lanjut

High School Musical: Activating the Youth Community

Anda tahu film “High School Musical” (HSM)? Film televisi buatan Disney ini sangat populer di kalangan anak muda saat ini. Penayangan perdananya di Amerika ditonton oleh sekitar 7,7 juta orang. Sementara di Inggris penayangan perdananya disaksikan sekitar 789 ribu pemirsa.

Secara singkat, film ini mengambarkan perjuangan dua orang murid sebuah SMA di Amerika untuk mengikuti audisi pemeran utama pertunjukan sebuah drama musikal di sekolahnya. Dengan dukungan teman-temanya, kedua murid yang bernama Troy Bolton dan Gabriella Montez itu akhirnya mendapatkan peran yang mereka idamkan tersebut.

Film ini pun ditutup dengan indah. Seluruh murid sekolah berkumpul bersama di gym sambil bernyanyi dan menari.

Nah, sebenarnya agak klise, bukan? Namun, film ini menjadi sangat menarik karena dikemas dalam bentuk drama musikal. Jadi, di sana-sini dihiasi oleh tarian dan nyanyian yang sangat memikat dari para pemeran film HSM ini.

Inilah film televisi paling sukses yang pernah diproduksi Disney. Film yang diluncurkna pada 20 Januari 2006 ini memenangkan 2 Piala Emm Baca lebih lanjut

Sellaband: When musicians meet their “believers”

Anda seorang musisi baru dan tidak punya dana untuk melakukan rekaman di studio secara professional? Jangan khawatir, anda bisa bergabung ke situs Sellaband (www.sellaband.com), mengumpulkan dana disitu, lalu melakukan proses rekaman layaknya musisi professional. Ya, inilah salah satu terobosan dalam industri musik di era New Wave Marketing ini. Fans anda di seluruh dunia bisa ikut mendanai proyek rekaman anda. Sebaliknya, kalau anda yang jadi fans musisi yang ada di Sellaband, anda pun bisa ikut mendanai proyeknya, walaupun tidak kenal musisi tersebut.

Model bisnis Sellaband ini memang unik. Situs musik yang diluncurkan di Bocholt, Jerman oleh Johan Vosmeijer, Pim Betist, dan Dagmar Heijmans pada Agustus 2006 ini melibatkan para fans secara aktif untuk mendukung musisi yang digemarinya sejak awal proses rekaman. Disini para musisi diperlakukan layaknya sebuah perusahaan yang akan melekukan IPO. Jadi, Sellaband akan menerbitkan semacam “saham”. Saham Baca lebih lanjut

It’s not segmentation anymore, it’s communitization!

Dalam Legacy Marketing, langkah pertama untuk menyusun strategi marketing adalah dengan melakukan segmentasi. Namun dalam era New Wave Marketing saat ini, yang harus dilakukan bukanlah melakukan segmentasi, tapi Communization.

Ya, New Wave Marketer harus bisa membentuk suatu komunitas yang ada. Definisi komunitas sendiri ada macam-macam. Namun, bagi saya, definisi yang paling tepat adalah definisi yang terdapat dalam buku The Cluetarin Manifesto.

Didalam buku ini, komunitas didefinisikan sebagai sekelompok orang yang saling peduli satu sama lainlebih dari yang seharusnya. Jadi, dalam komunitas terjadi relasipribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. beda denga segmentasi yang anggota segmennyabisa tidak peduli satu sama lain.

Inilah salah satu perbedaan yang jelas antara segmentasi dengan communization. Kemudian dalam segmentasi, pembentukannya dilakkukan oleh perusahaan sehingga sifatnya vertical. Prosesnya berlangsung dari atas ke bawah. Pelanggan dan calon pelanggan dianggap berada di bawah produsen.

Sementara dalam communization, pembentukannya dilakukan oleh orang per orang yang setara sehingga bersifat horizontal. Juga dalam Baca lebih lanjut