Three Different Kind of People (part 2)

Dua lantai diatas mengelilingi ruang utama, seperti tribun dalam sebuah panggung orchestra.(Pekok, ini bukan orchestra, ini adalah tempat menghadap Tuhan!!!!) Masjid ini begitu luas, tak bisa dibandingkan dengan surau tempat aku mengaji dulu. Tak kulihat kentongan, benda yang hampir selalu ada di mushola di desaku. Mimbar kayu diganti dengan mimbar beton tepat disamping atas tempat imam. Tembok tinggi diatasnya dihiasi lukisan kaligrafi yang indah, sebuah bentuk akulturasi budaya yang memukau. Setelah sholat Isya, kamipun tidur di pinggir ruang utama. Berjejer-jejer seperti ikan-ikan hasil tangkapan nelayan yang sedang dijemur. Kami harus istirahat cukup agar dapat bangun pagi-pagi esok, sholat Subuh.

Tidurku tenang, seakan ada penjaga yang menjaga kami tidur. Adzan subuh membangunkan kami, kami langsung bangun untuk mengambil air wudhu. Dalam keadaan setengah sadar, wajahku kusapu air dingin kran. Semarak. Mataku langsung terbuka, kesegaran langsung terasa, semangat pun menggelora. Para jama’ah lain sudah terbangun, ada beberapa yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Iqomah berkumandang, jama’ah merapatkan barisan. “Absen” pertama untuk hari ini kujalani disini, sebuah tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Takbir terus berkumandang sehabis subuh, mengingatkanku pada memori saat aku kecil dulu. Saat takbir sahut menyahut, aku dilanda semacam déjà vu.

Sholat Ied dimulai sekitar pukul tujuh. Istimewa karena kepala Negara hadir beserta wakil dan tamu-tamu dari kedutaan negara-negara muslim di Indonesia. Mereka sangat khas, anak kecil yang melihatnya pasti dapat mengenali kalau mereka bukan dari Indonesia. Sosok mereka tinggi, besar, sebagian hitam. Walaupun tidak lebat, jenggot tebal beserta pakaian khas timur tengah sangat kentara. Aku tak tahu nama khotib dan imamnya. Yang kutahu bacaan tajwid, wibawa, ilmu agama dan budi lakunya pasti lebih dariku. (Yaiyalah!!!!! ) Sholat Ied berjalan khusyuk, seperti biasa. Sesudah sholat selesai, imam melanjutkan dengan khotbah Idul Adha. Aku malu mengakuinya, seperti khotbah-khotbah lain yang pernah kudengar, semua hanya kupahami real time. Saat itu juga. Implementasinya dalam kehidupan sehari-hari masih jauh panggang dari api. Itu khotbah berbahasa Indonesia, kalu full Arabic? Khotbah berjalan lancar. Khotbah selesai, para jama’ah yang berjumlah ribuan bergerak maj Baca lebih lanjut

Three Diferent Kind of People (part 1)

Idul Adha, 2008. Hari besar Islam terbesar kedua setelah Iedul Fitri. Kalau Iedul Fitri tentang penyucian diri, maka Idul Adha adalah tentang keikhlasan hati. Keikhlasan diri dalam berkorban, keikhlasan hati dalam berbagi. Aku ingin sekali sholat Ied di Istiqlal, masjid kebanggan warga Jakarta yang katanya terbesar se-Asia Tenggara. Keingintahuan atau bentuk penasaran? Perbedaannya tipis kawan, yang jelas aku rindu hal-hal baru. Kalau bisa, aku ingin mencoba semua hal di dunia ini (kemaruk!!). Rencana tersusun rapi, janji terikrar suci. Sore hari, saat cahaya mentari merayap pergi tak lagi berseri-seri, kami berempat – insurgent army, Fitri (asli laki-laki), Marto Eng, Muldani – berangkat menuju terminal Kalideres untuk mengejar busway ke Istiqlal. Sampai di dalam bus, setelah mendapatkan posisi duduk yang nyaman kukeluarkan buku terbaru dari idolaku, yang sengaja kubawa serta. Seri terakhir dari tetralogi yang inspiratif, Laskar Pelangi. Buku yang telah kutunggu terbitnya setiap waktu, Maryamah Karpov. Perasaan itu muncul, perasaan “ini lho bacaanku, berbobot kan?”. Sepertinya menyenangkan membaca buku di bus umum, terkesan ‘hobi yang berat’. Sebuah hobi yang baru ingin kumulai. Sebenarnya aku memang ingin sekali membacanya di angkutan umum. Walaupun memang dengan niat mulia- belajar setiap waktu-, tapi tetap saja rasa narsis itu muncul. Dasar Mr. Narsis.

Sebelum Isya kami tiba di tempat tujuan. Gerbang tempat kami turun dari busway ditutup. Kami memutar untuk masuk ke masjid Agung itu. Adzan berkumandang, perasaan yang lain berganti menyergap. Sejuk, saat mengingat semua kebaikan yang seharusnya tak perlu diingat-ingat. Resah, saat mengingat iman di hati yang setipis lapisan ozon akhir-akhir ini. Kami langsung menuju tempat wudhu. Aku pernah dengar kalimat bijak, kebiasaan adalah racun. Bagiku, kalimat itu benar adanya. Kebiasaanku sejak kecil terbawa sampai sekarang, menunda-nunda waktu. Sebuah sifat yang tak bisa dibanggakan. Dan bukannya langsung mengambil air wudhu, aku malah duduk –duduk di tangga persis dipintu masuk tempat wudhu itu. Melepas lelah, sebuah pembelaan diri. Dan datanglah orang pertama. Sebenarnya dia sudah duduk disitu dari sebelum aku masuk masjid ini. Seorang laki-laki tunanetra berusia kira-kira 40-an tahun. Penampilannya sangat sederhana, baju koko berkolaborasi dengan sarung motif kotak-kotak ditambah peci hitam yang sudah lusuh. Kebalikan dari penampilanku yang sok gaul, padahal jadul. Wajahnya mengisyaratkan rasa syukur yang tulus atas semua anugerah yang diberikan Tuhan padanya. Aku tersentak menyadari betapa aku tidak pernah menyukuri apa yang kupunya. Bapak-bapak itu memulai percakapan dengan terlebih dahulu meraba-raba menentukan posisi yang dia kira sudah berhadapan dengan lawan bicaranya. Seperti selalu aku terlalu pasif –apa mungkin ini bentuk kesombongan?-, bahkan kepada orang yang tak bisa melihatku. Tanpa memperkenalkan diri dia memulai percakapan. Aku tak ingat detilnya, tapi sepertinya ini mendekati : Baca lebih lanjut