Cinta

Sejauh aku mengenal cinta, disitu cuma ada satu entitas, orang tua.
Mereka seolah realisasi paling sempurna untuk menggambarkan arti kata cinta.
Ketulusan, keikhlasan, tanpa pamrih dan nilai-nilai bijak lainya menyatu dalam leburan kasih sayangnya. Terimakasih, karena cinta kalian aku bisa disini, menghirup segarnya udara, menikmati indahnya dunia, mensyukuri nikmat Yang Kuasa.

A New Horizon

I’ve been looking for this time, time to share my love, time to share my dream, time to share my lungs…

I’ve been waiting for this girl, someone to excite my thirst of affection, my lust, my passion…

You’ve been in my heart for long time, now you became real, not just a fantasy, not just ordinary,

Keep this love together, dear sweetie ­čÖé

Soe Hok Gie, the Last Embrace

‘Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,

´╗┐´╗┐Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,

Tapi aku ingin menghabiskan waktuku disisimu, sayang kuÔÇŽ

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Da Nang,

Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra,

Tapi aku ingin mati disisimu manisku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,

Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu,

Mari sini sayangku,

Kalian yang pernah mesra,

Baca lebih lanjut

Balada Penyaliban

Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.

Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.

Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
– Bapa kami di sorga
telah terbantai domba palling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!
Baca lebih lanjut

Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam

Bismillahir rohmanir rohim

Allah! Allah!
Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku
yang menyembul dari selimut.
Aku membuka mata
dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara
di dalam jiwa.

Burung-burung terbakar di langit
dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin
jatuh di atas air
hanyut di kali, dibawa ke samodra,
disantap oleh kawanan hiu
yang klalu menggelepar
jumpalitan bersama gelombang

Aku merindukan desaku
lima belas kilo dari Rangkasbitung.
Aku merindukan nasi merah,
ikan pepes, desir air menerpa batu,
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.

Musna. Musna. Musna.
Para turis, motel dan perkebunan masuk desa.
Gadis-gadis desa lari ke kota
bekerja di panti pijat,
para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan.
Dan akhirnya
digusur atau ditangkapi
disingkirkan dari kehidupan.
Rakyat kecil bagaikan tikus.
Dan para cukong
selalu siap membekali para penguasa
dengan semprotan antihama.
Musna. Musna. Musna.

Kini aku di sini. Di Rotterdam.
Menjelang subuh. Angin santer. Baca lebih lanjut

Piaraan Pantai

Aku mengenal sungai,

setua bumi,

sedekat urat nadi.

Di dadaku,

udang dan ganggang masih silang terkembang. Tapi,

jauh di bawah pusar, tempat laut dalam tak sadar,

seorang lelaki

berjubah lunglai

membungkuk,

mencucup lubang gaib, dimana senja mengintip,

mirip singa buta, penunggu Sungai Tua.

Sedang, di sekelilingnya,

angsa-angsa mengerami mimpi,

seperti menggarami pandangku

dengan bunyi bibit sunyi,

yang lebih panjang

dari Mississippi

(2008)

A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini bergiat di Komunitas Rabo Sore dan bekerja sebagai editor pada sebuah penerbit di Surabaya.

Pasir Terukir

Siapa suka mengukir pasir,

akan sampailah ia ke pinggir:

tempat dimana burung-burung

tak (lagi) takut terkurung,

dan perahu pemburu

tersangkut

di puncak kabut:

mungkin itu rumah senja,

mungkin sarang bianglala,

tapi apa bedanya?

Seorang tualang

bukan juru peta,

dan kitab angin yang dikhatamnya,

adalah rangkaian cinta

dari codot-codot yang terus setia,

tanpa rumah.

 

A Muttaqin, 2008