Melepaskan 8 Hal Dalam Hidup

 

 

 

 

Happy Family

1. Melepas tekanan
Lelah tidaknya Anda tergantung pada persepsi Anda. Apabila Anda tidak membersihkan pikiran, maka pikiran akan penuh debu. Setiap hari Anda akan menemui banyak kegiatan, sebagian bahagia, sebagian lagi tidak.

Semua peristiwa ini akan menetap di pikiran, melebur dan mengacaukan pikiran. Bila Anda menyimpan kenangan yang menyakitkan, Anda akan merasa sangat tertekan. Oleh karenanya, bersihkan pikiran Anda, biarkan hal-hal itu berlalu, singkirkan kenangan pahit, maka Anda akan memiliki banyak ruang untuk kebahagiaan.

Ketidakbahagiaan merupakan akar penderitaan Anda.

2. Melepas kekhawatiran
Kebahagiaan sebenarnya cukup sederhana. Melatih tersenyum, bukan secara mekanis memasang ekspresi pada wajah Anda, tetapi berusaha keras untuk mengubah apa yang Anda rasakan di dalam. Belajar untuk menerima kenyataan dengan tenang; belajar bagaimana mengatakan kepada diri sendiri, “Saya akan mengikuti sifat alam.” Baca lebih lanjut

Tentang Satu Bulan yang Telah Berlalu – #2

Sebelumnya baca juga cerita yang ini 🙂

Pagi tadi liat perform live-nya NAIF di sebuah stasiun televisi swasta, R*TI. Acara musik yang munculnya pagi-pagi, yang bersaing sama stasiun tivi sebelahnya, apalagi kalo  ga rebutan rating. Denger-denger banyak anak-anak sekolah yang rela bolos demi nyambangin ni acara, stasiun tivi sebelah, yang memang acaranya outdoor tidak seperti di R*cti tadi. Yang penting kan rating 🙂 😛 :nohope

Haha, udahan lah nglanturnya…

Surprize!!! Kejutaaaannn!!! 🙂

Selalu bermakna ceria, bahagia, senang tak terkira kalau kita mendapat kejutan. Padahal tidak semua kejutan membuat bahagia, tapi itulah kekuatan stigma Baca lebih lanjut

Cukup.

Ada cerita, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang
diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si
petani mengucapkan kata “cukup”.
Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di
depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu.
Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya,
seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih
kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum
cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani
itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata
cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata
“cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan
kerja kerasnya. Baca lebih lanjut

Tears, Regret and Indulgence

Cerita ini berawal dari sebuah Private message :cekpm dari seorang teman yang ga terlalu dekat. Cewek lho, jarang-jarang tuh ane dapet PM dari cewek :maho. She said she needs a friend to share for, about secret. Ouuw, misterius bener, ane sempet was-was tuh. Kayannya catatan kriminal ane bagus deh. Zero percent criminal track record :army:. Tapi dengan semangat mempererat tali persaudaraan, semangat The Good Person wannabe, semangat membantu sesama, dan semangat untuk memperbanyak wanita dalam hidup ane (:ngakaks) ane iyakan requestnya. Jam 3 sore di Metropolis Town Square. Galau, padahal ane jarang ke mall tuh :nohope:

Lihat Peta Lebih Besar
Yeah, d day has come! Oiya, karena ane lagi memperbaiki kedisiplinan -setelah malam sebelumnya telat berangkat kondangan- ane berusaha ontime tuh. Sempat kejebak macet di sekitar jalan Imam Bonjol, ane tiba di venue jam 3.10 kayanya, jam hape ane ga diset sih :D. Yap, yg punya hajat juga belum nyampe. Suruh ke depan K*C, lha ane aja ga tau sebelah mana tuh K*C, alhasil ane muter2 :bingung: dolo kaya orang bingung. Akhirnya ketemu oranya, :genit:, makan apa nih??? Beli float gocengan yang ternyata enakan es bubblenya bang Zen, nyari tempat duduk nemu2 di atas deh. Sesi konseling pun dimulai. Terengterengtereng… :tkp
Drama dimulai. Belum crita aja dia udah sesegukan gitu, tears in the edge of her eyes. Serius, ane trenyuh tuh, kayanya bakal berlinangan air mata nih… :mewek Sebelumnya ane kasih tau peran-peran dalam kisah ini. Cewek ini ceritanya mantan (ato masih pacar bingung juga ane) dari sahabat ane, teman seperjuangan yg pernah sekamar sama ane selama +/- 4 tahun. Sebut aja cewe ini Mun. Udeh, tokohnya ini doang :ngakak
Hubungan mereka -si Mun and temen ane- critanya lagi di ujung tanduk. Jangan tanya ane tanduk apa :marah. Mereka berdua terancam putus sekolah (lhooo???). Sebenernya poinya bukan masalah putusnya hubungan mereka, tapi problem yg ditinggalkan dari hubungan yang hampir kandas itu. Ane Baca lebih lanjut

Disconnect to Connect

Ahhhhhhh, lega rasanya, seharian ini ane ga bersentuhan sama sekali dengan internet. Yap, semua yang berlebihan itu tidak baik, kata baginda kita Rasulullah SAW. Beberapa hari terakhir ini ane terlalu exis di dunia maya, ckckck. Sekali-kali keluar dari dunia maya dan menikmati dunia nyata, seperti kodrat manusia sesungguhnya, itu menyenangkan.

Judul tulisan ini sebenernya ane ambil dari sebuah judul video di Youtube, yang pesanya adalah sekali waktu kita perlu untuk memutuskan hubungan (disconnect) dengan dunia maya, untuk berinteraksi secara nyata di dunia kita yang sebenarnya… Hahahaha, bahasa ane aneh ya?? banyak yang bilang sih :ngakaks

Oke, kita kembali ke trek kita yang sebenarnya!!!

Postingan kali ini sebenernya ane pingin cerita tentang temen2 lama ane di pabrik dulu, PT Santoso T*knindo (STi). Tak terasa udah lebih dari 6 bulan nih Baca lebih lanjut

Guru Yang Terbaik

Terjaga lagi.

Akhir-akhir ini aku merasakan hal yang aneh. Bukan perut mualku atau pusing kepalaku, tapi perasaan yang berhubungan dengan hati (beehh, lebahh…). Ada rasa bahagia, takut, kuatir, waswas, dan sejuta perasaan lain yang seolah bercampur, bersatu padu mengaduk-aduk perasaanku. Bahagia karena apa aku tak tahu pasti. Kuatir tentang apa aku juga ragu, yang jelas hatiku terganggu. Tersirat wajah ayu seorang dara, aku tak kenal dekat, tapi rasanya dia sudah melekat…… breeppp breeepp breepppppp..^$$%#^^&*^&^….

Ganti chanel.

Sori judulnya agak ga nyambung, hehehe. tadinya mau nulis tentang cinta, kaya alinea pertama itu, tapi setelah membaca sebuah note, sebenernya bukan note juga sih, (kayanya lirik lagu)(gimana sih, yang bener mana nih??)(lho kok jadi ente yang sewot!?!?) from an old friend, tiba-tiba terlintas tema yang lain. tema yang lebih essensial. Kehidupan. A life. Ehmmm, ehmmm…

Soundtrack yang tepat untuk postingan ini mungkin 100 years-nya Five for Fighting kali ya. Aku juga pernah posting catatannya di fb. Proses belajar seorang manusia idealnya ya seumur hidupnya. Artinya setiap momen dalam hidup kita seyogyanya dapat kita jadikan sebuah proses pembelajaran. Aku ingat betapa lugunya (lugu= Lutung Gunung) seorang Seto El Kahfi semasa SD. Ga terlalu lugu, malah kadang bandelnya minta ampun. Pada masa inilah aku mulai mengenal angka dan huruf, dan masa gelap prasejarah Baca lebih lanjut

A Dialogue

Pulang dari kampus tadi aku mampir ke warung burjo langganan di daerah Dumpit. Sudah cukup lama aku ga mampir, juga perut agak keroncongan. Karena uang tinggal 3000, jadilah aku mampir. Hehmm, mas2 yang jualan masih ramah, mungkin ini yang membuat warungnya lumayan ramai, setidaknya dibandingkan saingannya -warung sebelah- yang juga menjajakan bubur kacang ijo.
Yah, keramahan, memanusiakan manusia. Demi melihatku, sang mas2 menyungging senyum. Ku balas dengan sapaan (sok) akrab. Akhir-akhir ini aku sedang belajar untuk menjadi orang yang menyenangkan, :).

Akupun memesan satu mangkuk penuh, yang langsung dibalas dengan anggukan, dan (sekali lagi) senyuman. Memang menyenangkan melihat orang tersenyum. Senyum yang tulus tentunya. Kalau ingat kalimat ini, saya jadi sangat terpukul saat ada yang bilang saya jutek, :(. Walaupun aku tak tahu pasti apa artinya, tapi kedengaranya seperti hal yang tidak baik. Lain kali aku akan cerita banyak tentang tema ini, hehehe..
Hidangan siap, dan langsung kusantap. Dengan lahap, Baca lebih lanjut