Kekristenan dalam Kesusastraan Indonesia

Oleh Suryadi

Ada dua unsur yang menjadi sumber ‘energi’ penggerak alur cerita yang hampir tidak terlalu sulit menelisik jejaknya dalam teks satra Indonesia. Yang pertama adalah unsur kesukubangsaan (dimensi etnitas) dan yang kedua adalah unsur keagamaan (dimensi religiositas). Representasi kedua unsur ini dalam karya-karya sastra Indonesia -dalam kadar yang berbeda-beda- hampir selalu dapat dirasakan.

Kesusastraan Indonesia modern, sejak awal kemunculannya sampai sekarang, dipenuhi oleh teks-teks fiksional yang merepresentasikan persoalan-persoalan etnisitas dan religiositas dengan menampilkan banyak wira yang mengalami guncangan psikologis akibat pertemuan dengan modernisme Barat.

Dimensi etnisitas karya-karya satra Indonesia sudah lama menjadi topik pembicaraan dikalangan pengamat sastra. Penelitian dan polemik mengenai regionalisme dalam kesusastraan Indonesia -dengan memakai berbagai istilah seperti “perdebatan sastra kontekstual”,”revitalisasi sastra pedalaman”, dan lain sebagainya- telah berlangsung paling tidak sejak 1980-an, seperti dapat dikesan dalam tulisan-tulisan Ariel Heryanto, Linus Suryadi AG, mursal Esten, Michael bolden, dan Farida Soemargono -untuk menyebut beberapa nama.

Dimensi religiositas karya-karya sastra Indonesia juga sudah sering dibahas dalam penelitian dan kritik sastra. Namun, sejarah studi sastra Indonesia menunjukkan bahwa yang lebih sering dikaji adalah representasi agama mayoritas (Islam), seperti dapat dikesan dari, misalnya, studi Sjamsu (1971), Jassin (1972), Deakin (1976), Hasjmi (1979;1984), Dardjowidjojo dan Lamoureux (1983), Narvis (1984), Mangunwijaya (1988), Tohari (1989), Tahqiq (1995), serta Saridjo (2006). Sebaliknya, studi dan kritk yang membahas dimensi religiositas agama-agama minotitas, seperti Kristen, Hindu, Buddha, sangat jarang bersua.

Sejak lama kultur politik dan agama di Indonesia potensial membuat kalangan intelektual, akademisi, dan budayawan cenderung menjauhkan diri dari diskursus apapun yang terkait dengan agama-agama minoritas. Orang dibuat khawatir dan takut untuk mengangkat isu agama-agama minoritas ke dalam wacana publik, termasuk dalam dunia penelitian dan kritik sastra.

Kenyataan menunjukkan bahwa sejumlah teks sastra Indonesia lahir dari latar belakang tradisi kekristenan. Namun, untuk religiositas kekristenan (Christianity) itu jarang dibahas dalam wacana penelitian dan kritik sastra Indonesia.

Demikianlah umpamanya, representasi kekristenan, baik dalam nada mitos pengukuhan maupun mitos pembebasan, dapat dikesan dalam Upacara karya Korrie Layun Rampan (1976), Romo Rahadi (1981) dan Pohon-pohon Sesawi (1999) karya YB Mangun Wijaya, Saman karya Ayu Utami (1998), dan Genesis (2005) karya Ratih Kumala- untuk sekadar menyebut contoh. Baca lebih lanjut