Balada Penyaliban

Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.

Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.

Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
– Bapa kami di sorga
telah terbantai domba palling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!
Baca lebih lanjut

Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam

Bismillahir rohmanir rohim

Allah! Allah!
Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku
yang menyembul dari selimut.
Aku membuka mata
dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara
di dalam jiwa.

Burung-burung terbakar di langit
dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin
jatuh di atas air
hanyut di kali, dibawa ke samodra,
disantap oleh kawanan hiu
yang klalu menggelepar
jumpalitan bersama gelombang

Aku merindukan desaku
lima belas kilo dari Rangkasbitung.
Aku merindukan nasi merah,
ikan pepes, desir air menerpa batu,
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.

Musna. Musna. Musna.
Para turis, motel dan perkebunan masuk desa.
Gadis-gadis desa lari ke kota
bekerja di panti pijat,
para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan.
Dan akhirnya
digusur atau ditangkapi
disingkirkan dari kehidupan.
Rakyat kecil bagaikan tikus.
Dan para cukong
selalu siap membekali para penguasa
dengan semprotan antihama.
Musna. Musna. Musna.

Kini aku di sini. Di Rotterdam.
Menjelang subuh. Angin santer. Baca lebih lanjut

Kupanggil Namamu

Sambil menyeberangi sepi

kupanggil namamu, wanitaku.

Apakah kau tak mendengarku?

 

Malam yang berkeluh kesah

memeluk jiwaku yang payah

yang resah

kerna memberontak terhadap rumah

memberontak terhadap adat yang latah

dan akhirnya tergoda cakrawala.

 

Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.

Ingin kuingat lagi bau tubuhmu

yang kini sudah kulupa.

Sia-sia.

Tak ada yang bisa kujangkau.

Sempurnalah kesepianku.

 

Angin pemberontakan

menyerang langit dan bumi.

Dan dua belas ekor serigala

muncul dari masa silam

merobek-robek hatiku yang celaka.

 

Berulang kali kupanggil namamu

Dimanakah engkau, wanitaku?

Apakah engkau juga menjadi masa silamku?

Kupanggil namamu.

Kupanggil namamu.

 

Kerna engkau rumah di lembah.

Dan Tuhan?

Tuhan adalah seniman tak terduga

yang selalu sebagai sediakala

hanya memperdulikan hal-hal besar saja.

 

Seribu jari masa silam

menuding kepadaku.

Tidak.

Aku tak bisa kembali.

 

Sambil terus memanggili namamu

amarah pemberontakanku yang suci

bangkit dengan perkasa malam ini

dan menghamburkan diri ke cakrawala

yang sebagai gadis telanjang

membukakan diri padaku

Penuh. Dan perawan.

Keheningan sesudah itu

sebagai telaga besar yang beku

dan aku pun beku di tepinya.

Wajahku. Lihatlah, wajahku.

Terkaca di keheningan.

Berdarah dan luka-luka

dicakar masa silamku.

 

(dari Blues untuk Bonnie, 1971)

Sajak Orang Kepanasan

Karena kami makan akar

dan terigu menumpuk di gudangmu

Karena kami hidup berhimpitan

dan ruangmu berlebihan

maka kami bukan sekutu

Karena kami kucel

dan kamu gemerlapan

Karena kami sumpek Baca lebih lanjut

Sajak Orang Lapar

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan Baca lebih lanjut

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku Baca lebih lanjut