Wiraswasta, Menciptakan Yang Belum Ada

Apa yang dikerjakan Wawan Juanda tidak persis sama dengan yang dikerjakan Yoris Sebastian. Meski begitu, ada yang menghubungkan mereka, yaitu selalu mencari ide baru yang inovatif. Wawan dan Yoris sama-sama menciptakan bisnis yang tadinya belum ada. Wawan adalah creator pertunjukan atau festival, Yoris menawarkan jasa konsultasi yang memberikan ide-ide kreatif untuk klien yang mau menjalani bisnis dengan cara “tidak lazim” alias dengan cara “Oh My Goodness”.

Salah satu syarat bertumbuhnya industri atau ekonomi kreatif adalah keberadaaan para wiraswastrawan. Ide-ide kreatif memerlukan kecakapan kewiraswastaan untuk dapat menjadi industri atau kegiatan ekonomi. Lebih dari hanya menciptakan bisnis, wiraswastawan harus memiliki karakteristik khas yang seperti disebut Donald F Kuratko dan Richard M Hodgetts (Entrepreneurship: Theory, Process, and Practices; 2004) juga meliputi mencari peluang, berani mengambil resiko, dan memiliki kegigihan mewujudkan ide-ide menjadi kenyataan, yang berkombinasi dalam cara inovatif.

Wawan awalnya praktis bekerja sendirian. “Hanya saya dan gagasan saya. Asset saya adalah otak saya, jadi saya harus bekerja sama dengan banyak orang dan para  event organizer untuk membikin suatu pertunjukan,” kata Wawan. Tantangan terberat Wawan pada awal usahanya 10 tahun lalu adalah membuat jejaring dengan para perencana kegiatan. Tantangan lain adalah memastikan gagasan dapat diterima oleh para Baca lebih lanjut

Yoris Sebastian

Bila diminta menjelaskan, apa persisnya yang dia kerjakan, Yoris Sebastian (36) akan menjawab singkat, menyediakan jasa konsultasi yang menawarkan ide kreatif.

“Setiap bisnis adalah bisnis kreatif,”

kata Yoris, yang mendirikan OMG Creative Consulting bersama Sumardy, Yan Gunawan, dan Bernhard Subiakto. Beberapa contoh yang sudah dikerjakan OMG-boleh dimaksudkan sebagai singkatan Oh My Goodness-adalah konsultan pengembangan bisnis konsep ruang rapat fPod di fX Jalan Sudirman, Jakarta; kreatif konseptor Rasuna Epicentrum yang mengusung konsep The Creative Capital of Jakarta; event consultant Black Innovation Award 2009 dan International Young Cretive Entrepreneur Award British Council Indonesia; pemasaran dengan konseword of mouth untuk XL dan kosmetik Caring Colours; konsultan pemasaran kreatif film remaja Queen Bee dan KetikaCinta Bertasbih; sampai konsep bisnis inovatif untuk Avia Tour.

OMG baru berdiri pada 1 April 2007, tetapi Yoris bukan orang baru dalam dunia kreatif. Dia lama bekerja di Haagen Dazs dan Hard Rock Café di bawah MRA Group. Selama di sana, Yoris sempat menelurkan beberapa unit usaha baru, yaitu IP Entertainment, BC Bar, dan majalah MTV Trax.

Keberanian menjadi wiraswasta muncul setelah memenangi kompetisi Young Creative Entrepreneur Award 2006 British Council Indonesia kat

egori musik. Dalam kompetisi internasional di London, dia memenangi juara kedua. “Di inggris saya bertemu banyak usahawan bidang kreatif dan industri musik. Saya melihaat potensi industri kreatif dan belajar industri ini bisa dikerjakan dengan berkolaborasi bersama banyak orang,” kata Yoris.

“Out of the box”

Keraguan Yoris menjadi wiraswasta awalnya karena pengalaman memperlihatkan, berbisnis di Indonesia mengandung risiko politik dan keamanan. Ynag masih membayangi Yoris adalah peristiwa tahun 1998 dengan huru-hara yang menyapu banyak bisnis. Pengalaman dari Inggris menyadarkan Yoris bahwa yang dia kerjakan selama ini adalah bagian dari ekonomi kreatif.

“Waktu itu banyak teman dari perusahaan lain yang minta ide gila dari saya. Awalnya enggak sengaja, lama-lama keterusan,” papar Yoris di fX pekan lalu.

Konsep adalah juga bisnis, sepanjang kreatif, memiliki inovasi, dan bisa diwujudkan. Dia menyebut sebagai “berpikir out of the b Baca lebih lanjut